Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Berkunjung ke Taman Nasional Baluran Situbondo, Kini Kian Sulit Temui Banteng, Hutan Mangrove Akhirnya Jadi Andalan

Ali Sodiqin • Sabtu, 9 Desember 2023 | 19:25 WIB
TETENGER: Pengunjung pose bersama di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.
TETENGER: Pengunjung pose bersama di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.

BANYUPUTIH, RadarSitubondo.id – Taman Nasional (TN) Baluran yang terkenal dengan kehidupan Banteng liarnya, sebenarnya memiliki beberapa objek wisata andalan.

Antara lain Bekol, Pantai Bama, dan Hutan Mangrove. Sayangnya, satwa yang jadi andalan hutan lindung ini, yakni Banteng, mulai sulit ditemui.

Kehidupan alam dan hutan di TN Baluran, Situbondo, jauh berbeda dengan TN Alas Purwo, Banyuwangi.

Kesan kurang terawat nampak jelas ketika menginjakkan kaki di kawasan hutan lindung ini. Mungkin ini bisa maklumi.

Seperti daerah lain di Kota Santri, dibanding musim penghujan, musim kemarau lebih akrab dengan kehidupan satwa liar di Baluran.

Untungnya, meski terkesan kering dan gundul, beberapa objek ’petualangan’ yang ada di dalamnya kerap membuat kita ingin kembali lagi.

TN Baluran memang perwakilan dari ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa. Hutan ini terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan TN Baluran ini.

Mencapai kawasan ini tidak terlalu sulit. Meski secara geografis masuk Kecamatan Banyuputih, Situbondo, namun Baluran tetap tidak bisa dilepaskan dari Banyuwangi.

Posisinya yang diapit hutan jati milik Perhutani Banyuwangi Utara dan jauh dari jantung kota Situbondo, membuat daerah ini lebih dikenal sebagai bagian dari wilayah Banyuwangi.

Sebab, tempat ini relatif lebih dekat dengan pemukiman padat penduduk Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Bahkan, penduduk Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, yang letaknya persis di sisi selatan TN Baluran dan berbatasan langsung dengan Wongsorejo, lebih suka disebut sebagai bagian dari wilayah Bumi Blambangan.

Begitu tiba di Bekol, objek pertama di TN Baluran, pengunjung bisa menikmati panorama hutan kering dan gunung Baluran dari ketinggian 64 meter di atas permukaan laut.

Di Bekol terdapat menara pandang di puncak bukit.  Di situ juga terdapat padang savana alami.

Ada dua jenis padang savana di Baluran. Yaitu flat savana (padang rumput alami datar) dan undulting savana (padang rumput alami bergelombang). Flat savana tumbuh pada tanah aluvial berbatu-batu.

Tipe savana ini terdapat di bagian tenggara kawasan. Yaitu daerah sekitar Plalangan dan Bekol dengan luasan sekitar 2000 ha.

Nah, dari menara yang letaknya di atas bukit Bekol ini, pengunjung bisa melihat berbagai jenis satwa seperti merak, ayam hutan, banteng, kerbau liar, rusa, kijang, babi hutan, dan lain-lain.

’’Itu jika beruntung. Saya sudah sering ke tempat ini. Tetapi belum pernah menjumpai banteng,’’ ujar Khoirul Muklis, seorang pengunjung.

Dari beberapa kali kunjungannya ke tempat ini, Muklis hanya menyaksikan burung merak, ayam hutan, dan kijang. Dia menduga, satwa lindung seperti banteng dan kijang, mulai musnah akibat perburuan liar.

’’Biasanya satwa ini akan berkumpul di padang savana saat pagi atau sore menjelang maghrib. Tapi hingga sekarang saya masih belum pernah menjumpai banteng,’’ tambahnya.

Bosan karena di Bekol ternyata tidak ada satwa yang bisa dilihat, perjalanan bisa dilanjutkan sekitar 3 km arah timur dari Bekol. Di sini terdapat Pantai Bama.

Pantai ini merupakan pantai yang landai dan berpasir putih, dengan formasi terumbu karang dan ikan hias yang indah. Itu semua bisa disaksikan saat air laut surut atau saat diving.

Di sekitar Pantai Bama, juga dapat disaksikan atraksi aneka satwa. Seperti kerbau liar sedang minum, kijang dan rusa, babi hutan mencari makan, biawak, ratusan kera yang sedang mencari makan di daerah pantai saat air laut surut.

Di tempat ini pengunjung juga bisa melakukan snorkling atau diving untuk melihat terumbu karang dan ikan hias, berkano menyusuri pantai di sekitar hutan bakau, dan berenang.

Di samping satwa, dapat pula disaksikan berbagai jenis flora. Seperti formasi hutan mangrove yang masih utuh, serta terdapat pohon soneratia (bakau) terbesar di dunia (keliling + 450 cm).

Hutan mangrove di sini memanjang dari Pantai Bima ke arah utara melewati Bilik, Lempuyang, Mesigit, Tanjung  Sedano, hingga Kelor.

Pada daerah mangrove yang masih baik (Kelor dan Bilik) flora yang umum dijumpai adalah api-api, bogem dan bakau.

Bahkan, pada beberapa tempat dapat dijumpai tegakan murni tinggi (ceriops tagal) dan bakau (rhizophora apiculata).

Sayangnya, di utara Pandean, Mesigit, dan sebelah barat Bilik terdapat hutan bakau yang telah rusak.

Daerah ini menjadi lumpur saat musim hujan, tetapi akan berubah menjadi keras dan kering dengan lapisan garam di permukaan saat musim kemarau. (als)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #Africa van Java #banteng #satwa liar #wisata #mangrove #Savana Bekol #taman nasional #baluran