Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Warga Kampung Terpencil di Situbondo Jatim Ini Hidup Rukun dengan Ribuan Sapi, Semua Peternak Wajib Hafal Wajahnya

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Februari 2024 | 21:30 WIB
Indri mengecek sapi miliknya di Pantai Lempuyang, Dusun Merak, Situbondo (4/2). Merak yang berada dalam kawasan Taman Nasional Baluran dikenal sebagai kampung sapi.
Indri mengecek sapi miliknya di Pantai Lempuyang, Dusun Merak, Situbondo (4/2). Merak yang berada dalam kawasan Taman Nasional Baluran dikenal sebagai kampung sapi.

RadarSitubondo.id – Di dalam kompleks Taman Nasional Baluran, Situbondo, warga Dusun Merak, Sumberwaru, Situbondo, Situbondo, tinggal dan menggantungkan hidup dari beternak sapi.

’’Hus... hus.. Ayo lari. Lurus-lurus!’’ kata Raminem meneriaki sapi-sapi yang sedang digembala di rerumputan Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional Baluran ini kawasannya berada di perbatasan antara Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Lokasi Taman Nasional Baluran persis berada di ujung timur bagian utara Pulau Jawa.

’’Kebetulan lagi giliran jaga, Mas. Susah jika ada yang hilang,” kata Raminem seperti dliansir dari JawaPos.com Sabtu (4/2/23) lalu.

Raminem adalah salah satu warga Dusun Merak. Dusun tersebut berada di kawasan pantai utara TN Baluran.

Hutan lindung ini dikenal dengan sebutan Africa van Java. Sebab, kawasan ini sangat gersang di musim kemarau.

Hutan Baluran yang berstatus sebagai taman nasional sejak 6 Maret 1980 itu identik dengan banteng.

Kalau Dusun Merak yang dihuni 360 KK (kepala keluarga) ini, lebih dikenal sebagai kampung sapi.

Ada sekitar 3.500 ekor sapi yang hidup di dusun tersebut. Hewan ternak tersebut hidup “berdampingan” dengan penghuninya.

Yang unik, oleh pemiliknya sapi-sapi itu tidak dibuatkan kandang secara tertutup. Melainkan hanya ada kandang di pinggir pantai.

Karena berdampingan dengan hutan yang sangat luas, kejadian sapi hilang atau tersesat seringkali terjadi.

’’Ada sapi hilang di hutan seminggu. Saya dimarahi pemiliknya,” kenang Raminem, yang pernah mengalami kejadian sapi hilang.

Bersama 4 penggembala lain, Raminem angon sekitar 300 ekor sapi ke dalam hutan Baluran.

Sapi-sapi tersebut berangkat pagi dan baru pulang pada sore harinya.

Pada waktu pergi dan pulang sapi ini sering terjadi suasana yang menegangkan laksana film-film koboi.

Tak semua hewan menurut kepada penggembala. Seringkali ada yang masih ingin bermain-main di dalam hutan.

Warga Dusun Merak, Sumberwaru, Banyuputih, Situbondo, ini memang menerapkan sistem beternak sapi secara tradisional.

Ratusan ekor sapi dilepasliarkan ke hutan. Dan baru dimasukkan kandang menjelang senja. Masyarakat secara bergantian ditugaskan jadi penggembala.

’’Sengaja tidak saya kasih tetenger. Tapi, saya hafal wajahnya,” kata Mohammad Nurul, peternak lainnya.

Nurul mengaku punya 40 ekor sapi. Sebagian sapi itu merupakan titipan orang luar Merak.

’’Yang susah saat PMK (penyakit mulut dan kuku) ramai beberapa waktu lalu. Kami nangis bareng,” tutur Nurul.

Letak Dusun Merak jauh dari pusat pemerintahan desa. Untuk memasukinya, pengunjung harus melalui Pos Waturumpuk, Dusun Karangtekok, yang berlokasi di pinggir TN Baluran.

Di sebelah timur Merak, terdapat dusun Lempuyang dan Sirondo. Lempuyang jauhnya sekitar 7 kilometer dari Merak. Sedangkan Sirondo, masih 3 kilometer lagi ke arah timur dari Lempuyang.

Informasi yang didapat JawaPos.com, wilayah Dusun Merak sebelumnya merupakan tanah kosong. Yang mendirikan rumah di sana kebanyakan pendatang.

Selain warga Desa Sumberwaru, ada pula warga asal Banyuwangi yang sengaja membuat rumah di pinggir pantai.

Secara pengelolaan, dusun tersebut berada dalam zona pemanfaatan wilayah TN Baluran yang memiliki luas 25 ribu hektare. Tapi, warga tak pernah diusir karena sudah lama menetap di sana.

Kalau akses ke Merak sudah lebih lancar, tak demikian halnya ke Lempuyang. Belum ada jalan memadai. Bahkan kalau hujan turun tak bisa dilewati.

Selama naik motor dari Merak ke Lempuyang, Jawa Pos hampir tiga kali terjatuh. Sebab, kontur tanahnya tak merata dan terkadang harus melewati batu-batu besar.

"Warga lebih sering naik perahu untuk keluar-masuk Lempuyang,” ungkap Kusnadi, sesepuh Lempuyang.

Pria 57 tahun itu menyebut warga Lempuyang –seperti juga warga Merak secara keseluruhan– menggantungkan hidup dari angon sapi.

Jadi, bisa dibayangkan kepanikan yang mereka hadapi saat PMK mendera. ’’Saat itu belum ada vaksin,” kenang Nurul.

Sapi-sapi diberi obat pilek dengan dosis ditambah tiga kali lipat. Untuk meningkatkan kekebalan, Nurul dan warga lain membuat jamu tradisional dari bahan beras kencur dan kunyit.

Bahkan, ketika tak ada wabah sekalipun, meski berada dalam kompleks taman nasional yang terkenal, menjual sapi pun juga bukan perkara mudah. Terutama mereka yang tinggal di Lempuyang dan Sirondo.

"Kalau yang kecil, kami naikkan perahu kami bawa ke Ketapang, Banyuwangi,” kata Kusnadi.

Untuk sapi-sapi yang lebih besar otomatis harus dibawa dengan berjalan kaki berkilo-kilometer. Tapi, mereka sudah melakukan itu berpuluh-puluh tahun tanpa mengeluh.

Seperti juga Raminem pada Sabtu siang dua pekan lalu itu. Toh, alam Baluran juga sudah banyak memberi mereka berkah. (eko hendri/jawa pos)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #peternak #jatim #sapi #kampung terpencil #merak #taman nasional #baluran