RadarSitubondo.id - Kawasan hutan Taman Nasional (TN) Baluran sering kali terbakar. Namun keadaan ini dianggap tidak berbahaya bagi flora dan fauna di dalamnya.
Sebab, luas hutan mencapai 25 ribu hektare. Itu disampaikan Eko Kintoko Kusumo, pegiat lingkungan dan pariwisata, Kamis (10/10).
Pria yang akrab dipanggil Eko itu mengatakan, kebakaran di kawasan TN Baluran diakibatkan dua faktor. Ada yang diakibatkan alam, ada juga ulah manusia.
Jika faktor alam biasanya muncul dari embun pagi yang tersisa lalu menjadi kaca pembesar bagi sinar matahari yang bisa membakar ilalang kering.
“Embun di atas rumput kering dan masih tersisa hingga siang, pas kena matahari bisa menyebabkan kebakaran juga. Kalau faktor manusia kan dibakar atau membuang puntung rokok sembarangan,” ucap Eko.
Eko menganggap kebakaran yang kerap terjadi di TN Baluran sebagai hal yang biasa. Itu sering terjadi setiap memasuki musim kemarau. Namun kebakaran tersebut tidak membahayakan bagi satwa penghuni TN Baluran.
“Jika kebakaran tidak ekstrem saya rasa habitat satwa tidak terancam. Sebab luas hutan baluran 25 ribu hektare. Sacara alamiah saat terjadi kebakaran satwa akan menghindar dari kobaran api dan mencari tempat lain. Saat ini paling tidak sampai seluluj hektare yang terbakar,” ucap Eko.
Dikatakan, jika kebakaran mencapai separo dari hutan yang ada, kemungkinan sataw akan terkepung dan mengalami cidera.
“Kalau kebakaran ekstream meluas mencapai separo dari hutan, mungkin satwa akan terusik dan atau terkepung oleh api. Itu baru resiko pada satwa, tapi sejauh ini belum pernah terjadi kebakaran ekstrem,” tegas Eko.
Kata dia, yang menjadi persoalan pada musim kemarau adalah ketersediaan air bagi satwa yang ada di TN Baluran. Sebab, air adalah hal yang dibutuhkan mahluk hidup termasuk satwa yang hidup di kawasan Hutan Baluran.
“Satwa itu butuh minum, dengan adanya kamarau panjang ini harus disuplai air. Itu petugas TN Baluran yang paham dimana saja titik lokasi yang harus dikasi air. Kalau air tidak ada otomatis satwa pindah tempat dari lokasi kering,” katanya.
Kepala Balai Taman Nasional belum bisa memberikan penjelasan kepada Jawa Pos Radar Situbondo. Alasannya belum menerima rilis data dari petugas di lapangan.
“Datanya saya belum update, hubungi pak kasi,” ujar Johan.
Kasi TN Baluran, Rio Wibawanto, juga belum bisa memberikan kepastian tentang luas lahan yang sudah terbakar dalam satu bulan terakhir ini.
“Mohon maaf masih belum bisa ngasi tanggapan, tim masih ada di tengah hutan sulit dikonfirmasi akibat tidak ada signal,” tutup Rio. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin