RADAR SITUBONDO – Becak bagi Sarjono, warga Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota bukan hanya sekedar kendaraan biasa.
Alat transportasi tersebut memiliki nilai khusus karena sudah menjadi mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dari sejak muda hingga saat ini.
Sarjono sudah aktif sebagai tukang becak sejak usianya 20 tahunan. Hingga saat ini di umurnya yang sudah menginjak 60 tahun, dia pun masih tetap menggeluti aktivitas tersebut.
Padahal kondisi fisiknya sudah rentan, tak sekuat saat dirinya masih berumur 20 an atau 30 tahunan.
Sarjono mengaku, puluhan tahun bekerja sebagai tukang becak sudah banyak suka duka yang dilalui.
Mulai dari mudah mendapatkan penumpang hingga masa-masa sulit seperti saat ini akibat pesatnya perkembangan teknologi.
"Sebelum ada layanan ojek online, becak adalah pilihan utama bagi masyarakat yang ingin bepergian jarak dekat. Namun, seiring dengan berkembangnya transportasi modern, pekerjaan sebagai tukang becak semakin terpinggirkan," ujarnya, Kamis (27/3).
Sarjono mengaku, maraknya ojek online membuat warga tidak lagi memilih becak untuk bepergian. Akibatnya setiap hari hampir tidak ada penumpang yang memanfaatkan jasa becak.
"Karena tidak ada penumpang sama sekali ya tidak ada pemasukan buat keluarga saya," ucapnya.
Meski demikian, Sarjono tidak patah semangat menghadapi kerasnya persaingan jasa angkutan tersebut. Dirinya masih menaruh harapan besar sebagai tukang becak untuk menghasilkan uang yang bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
"Ini adalah cara saya untuk menghidupi keluarga dan memberi pendidikan pada anak-anak saya," pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin