RADARSITUBONDO.ID - Halil Budiarto, warga Dusun Sletreng, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, berjalan kaki sejauh sekitar 50 kilometer dari rumahnya menuju Pendapa Rakyat Situbondo. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penunaian janji (nadzar) yang pernah ia ucapkan, yakni akan berjalan kaki seorang diri jika Kawedanan Besuki diperbaiki.
Sejak Kawedanan Besuki tidak lagi difungsikan sebagai pusat pemerintahan, bangunan tersebut tampak tidak terurus, kumuh, dan kehilangan jati dirinya sebagai bangunan bersejarah. Hal itu membuat Halil prihatin.
Dia pun bertekad, siapa pun pemimpin yang berkenan merenovasi kawedanan, maka akan berjalan kaki dari rumahnya hingga ke Pendapa Rakyat Situbondo. “Menurut saya, setelah sekian lama pergantian kepala pemerintahan, tidak pernah ada yang menyentuh Kawedanan Besuki. Saya sebagai guru sejarah sangat menyayangkan kondisi bangunan yang penuh nilai sejarah itu. Maka saya memutuskan, jika ada perbaikan, saya akan berjalan kaki,” kata Halil, Rabu (14/1).
Guru SMAN 1 Suboh ini mengaku tidak menyangka bahwa di bawah kepemimpinan saat ini Kawedanan Besuki benar-benar direvitalisasi.
Menurutnya, bangunan tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Nadzar yang dia tunaikan merupakan bentuk rasa syukur atas perhatian pemerintah terhadap cagar budaya tersebut. “Saya berdoa, siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin Situbondo dan mau merehabilitasi Kawedanan Besuki, maka saya akan menunaikan nazar itu,” tambahnya.
Setelah melihat kawedanan benar-benar diperbaiki, Halil pun langsung menjalani nadzarnya. Ia menempuh perjalanan selama satu hari satu malam atau sekitar 24 jam dari ujung barat Situbondo. Awalnya dia menargetkan perjalanan selesai dalam 16 jam, namun karena faktor hujan, ia sempat berhenti dan menunggu cuaca membaik.
“Saya berangkat sendirian hari Sabtu pukul 06.00 WIB dan tiba di pendopo sekitar pukul 08.00 WIB hari Minggu. Intinya, saya bermalam di jalan dan tidur di perjalanan agar bisa mencapai tujuan,” jelasnya.
Halil mengatakan, Kawedanan Besuki yang kini berganti nama menjadi Pendopo Pate Alos merupakan bukti nyata bahwa Situbondo memiliki sejarah panjang. Jika tidak dirawat, maka jejak sejarah itu akan hilang. “Keinginan saya sejak sekitar 15 tahun lalu adalah menjadikan Besuki sebagai kota sejarah,” ujarnya.
Meski sempat ada yang menawarkan untuk menemani atau mengawalnya, Halil memilih berjalan sendiri. Menurutnya, nazar itu harus dijalani secara pribadi sebagai bentuk komitmen. “Ini janji saya, jadi harus saya jalani sendiri,” katanya.
Dia juga berharap, dengan adanya revitalisasi Kawedanan Besuki, bangunan tersebut bisa dimanfaatkan untuk pelayanan publik dan mempermudah akses masyarakat wilayah barat Situbondo.
“Selama ini warga harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam ke kota. Jika pelayanan bisa dilakukan di Besuki, tentu akan sangat membantu. Apalagi Bupati juga berencana berkantor di sana. Ini sangat bagus, selain merawat cagar budaya, juga meningkatkan pelayanan masyarakat,” pungkasnya. (pri)
Editor : Edy Supriyono