Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Musim Hujan Jadi Petaka, Cabai Banyak Membusuk, Harga Melonjak hingga Rp50 Ribu

Moh Humaidi Hidayatullah • Minggu, 1 Februari 2026 | 20:06 WIB
WAKTU PANEN: Sejumlah petani memanen cabai di lahan milik mereka di Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, beberapa waktu lalu.
WAKTU PANEN: Sejumlah petani memanen cabai di lahan milik mereka di Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, beberapa waktu lalu.

RADARSITUBONDO.ID – Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir berdampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman cabai. Banyak yang membusuk dan terserang penyakit. Padahal, harga cabai di pasaran kembali melonjak.

Sejumlah petani mengeluhkan kondisi tanaman yang rusak sebelum masa panen. Buah cabai membusuk, rontok, bahkan batang tanaman mati akibat kelebihan air.

Kondisi tersebut menyebabkan hasil panen menurun drastis dan petani mengalami kerugian. “Curah hujan terlalu tinggi dalam beberapa hari terakhir sehingga banyak cabai yang busuk di pohon. Belum sempat dipanen sudah rusak,” ujar Aisah, salah satu petani cabai di Kecamatan Arjasa, Minggu (1/2).

Dia menambahkan, kerusakan tanaman disebabkan serangan penyakit yang membuat buah cabai membusuk dan tidak bisa dipanen maupun dijual. Apalagi, dalam beberapa hari terakhir wilayah tersebut sempat dilanda banjir akibat hujan yang hampir turun setiap hari. Sehingga memperparah serangan penyakit. “Di lahan saya, cabai sudah dibajak karena tidak bisa diharapkan lagi,” imbuhnya.

Menurutnya, lahan milik beberapa petani lain yang mengalami hal serupa juga dibajak. Padahal, mereka sudah memberikan pupuk dan berbagai jenis obat tanaman. Namun penyakit tetap menyerang sehingga perawatan justru menambah kerugian.

“Padahal harga cabai sekarang kembali naik, sekitar Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram,” jelasnya.

Aisah mengatakan, meski harga cabai tengah melonjak, petani tetap tidak bisa menikmati keuntungan karena tingginya biaya perawatan untuk mengantisipasi penyakit selama musim hujan berkepanjangan. Karena itu, ia memilih mengganti tanaman cabai dengan komoditas lain. “Sudah mencoba pakai obat yang mahal, tapi hasilnya tetap sama. Jadi lebih baik diganti jagung atau padi saja,” bebernya.

Hal serupa juga dialami Holil, petani lainnya. Ia mengaku tanaman cabainya banyak yang rusak dan membusuk akibat cuaca yang tidak menentu dan hujan yang terus mengguyur. “Punya saya juga begitu. Memang tidak semua petani mengalami, tapi kebanyakan mengalaminya,” ujarnya.

Menurut Holil, penggunaan obat apa pun tidak akan efektif jika curah hujan terus tinggi. Penyakit tanaman akan sulit dikendalikan, terutama jika hujan turun pada malam hari. “Kalau hujan tidak berkepanjangan dan siang hari masih bisa diatasi. Tapi kalau malam hari terus hujan, ya sudah pasrah. Cuaca sekarang sangat buruk dan tidak menentu,” tambahnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#petani #musim hujan #cabai