Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kompensasi Bedol Makam Dampak Pembangunan Tol Probowangi di Situbondo Diduga Tak Transparan

Humaidi. • Selasa, 20 Februari 2024 | 14:10 WIB
BONGKAR KUBUR: Warga Dusun Sanggaran, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, membongkar puluhan kubur, minggu (18/2).
BONGKAR KUBUR: Warga Dusun Sanggaran, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, membongkar puluhan kubur, minggu (18/2).

RadarSitubondo.id - Puluhan makam di Dusun Sanggaran, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo harus dibongkar akibat pembebasan lahan tol Probolinggo - Banyuwangi (Probowangi), Minggu (18/2).

Sejumlah pihak keluarga jenazah mengeluh. Diduga kuat, konpensasi tidak diumumkan secara transparan.

Data yang diterima RadarSitubondo.id, setidaknya ada 53 makam yang harus dibongkar dari tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Sanggaran.

Masing-masing jenazah dipindah ke berbagai desa sesuai dengan keinginan keluarga almarhum.

“Yang saya tahu sangat banyak jenazah yang dipindah. Tapi kalau total berapa makam yang dibongkar, saya kurang paham,” kata Hafid, salah satu aktifis di Kecamatan Besuki.

Hafid mengatakan, saat dirinya bertanya kepada sejumlah warga yang sibuk memindahkan jenazah keluarganya, ternyata banyak yang tidak paham dengan mekanisme pemindahan kubur terdampak jalan tol.

Mereka hanya pasrah dan mengikuti arahan dari pihak panitia untuk melakukan pemindahan kubur.

“Saya sempat tanya masalah kompensasi dalam satu kubur. Banyak warga yang bilang tidak tahu. Mereka mengaku hanya terima ongkos gali kubur dan ongkos pindah kubur. Kalau ditanya konpensasi malah banyak yang tidak tahu. Tahunya ya disuruh pindah, pindah saja,” kata Hafid.

Kata Hafid, jika berkaca dengan pemindahan kubur di Desa Ketah, Kecamatan Suboh, konpensasi untuk memindah satu kuburan cukup besar. Satu kubur bisa dapat konpensi Rp 6 juta.

Itu meliputi proses penggalian kubur lama hingga memindah ke kubur yang baru.

“Untuk di Desa Blimbing, satu kubur hanya dapat kompensasi Rp 1 juta, ada yang Rp 1,5 juta. Kalau di Desa Ketah, ada yang dapat Rp 6 juta. Ini kok bisa tidak sama. Kalau  dalam rab ada kesamaan tapi di lapangan kok tidak samaa.  Ini kan patut diduga ada kecurangan,” kata Hafid.

Dikatakan, pembangunan tol Probowangi juga dianggap kurang transaparan terhadap warga sekitar. Buktinya, sangat minim informasi.

“Kalau sebelum pembongkaran kubur ada pengumuman pasti warga tidak akan bingung,” kata Hafid.

Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Slamet menegaskan tidak ada permasalahan dalam pemindahan kubur yang terdampak tol Probowangi.

Semua warga setempat sudah menyetujui pemindahan dan mereka sudah menyadari adanya program pemerintah.

“Mayatnya dipindah ke berbagai tempat. Ada yang dipindah ke Desa Langkap, Kalibloro, ada juga yang dipasrahkan kepada pihak TKD,” kata Slamet.

Dalam pemindahan tersebut disesuaikan dengan kearifan lokal. Salah satunya  dilakukan ritual, doa bersama hingga proses pemindahan mayat.

Bahkan selama proses pemindahan aman dan lancar tanpa ada kendala.

“Kalau mau macam-macam kita takut juga. Ini kan kuburan, tidak mungkin dilakukan dengan cara sembarangan. Ini rentan. Tapi prosedurnya sudah ditaati semua,” pungkas Slamet. (hum/pri)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#situbondo #makam #dibongkar #kuburan #Tol Probowangi