RadarSitubondo.id - Kasus penyakit LSD atau lato-lato membuat sejumlah pedagang sapi di Situbondo memilih tidak berjualan.
Sebab, mereka takut pasar hewan menjadi tempat persebaran penyakit menular tersebut. Jika dipaksakan dijual pun, harganya murah.
Salah satu pedagang, Tolak, mengatakan, sudah beberapa pekan ini memilih libur berdagang sapi. Dirinya khawatir setelah munculnya penyakit lato-lato, penyakit menular tersebut menyebabkan ternaknya mati.
"Kalau pas dibawa ke pasar hewan takutnya terpapar penyakit lato-lato. Bukannya yang didapatkan untung tapi justru malah rugi," ujarnya, Jumat (29/3).
Tolak mengaku, dirinya memiliki trauma terkait kasus penyakit menular. Berkaca pada masalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) lalu, ternak miliknya banyak yang mati.
"Memang lebih aman sekarang pelihara saja dulu. Tidak masalah tidak ada yang laku, yang penting bisa dipelihara dulu," ucapnya.
Tolak berharap, kasus penyakit lato-lato bisa segera hilang di Situbondo. Sebab, pedagang sudah jenuh lantaran sulit mendapat untung. Harga sapi anjlok.
"Kalau sekarang harga sapi masih tidak maksimal. Harga sapi yang semula Rp 15 juta, sekarang jadi Rp 13 juta untuk usia sapi siap kawin. Kadang juga masih di bawahnya," jelasnya.
Sementara itu, pedagang lain, Suharto mengaku, dirinya saat ini melayani pembeli dari rumah. Ini dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit lato-lato.
"Kalau ada yang mau beli biasanya via online. Jadi sekarang mau jual ke pasar hewan libur dulu," ucapnya.
Kata Suharto, upaya yang dilakukan itu tidak sulit. Sebab, dirinya sudah memiliki pelanggan tetap. Sehingga melalui via online sudah cukup efektif.
"Kalau ada yang mau beli baru datang ke rumah. Nanti liat-liat sendiri cocok apa tidak. Dari pada di pasar belum tentu juga langsung laku dalam kondisi seperti sekarang," pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin