Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Situbondo Digitalisasi Naskah Kuno

Moh Humaidi Hidayatullah • Jumat, 9 Agustus 2024 | 20:59 WIB
DIARSIPKAN: Karyawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Situbondo, melakukan digitalisasi aksara kuno di pendopo Murtajaya, Desa Juglangan, Kecamatan Panji, Kamis (8/8).
DIARSIPKAN: Karyawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Situbondo, melakukan digitalisasi aksara kuno di pendopo Murtajaya, Desa Juglangan, Kecamatan Panji, Kamis (8/8).

RadarSitubondo.id - Dinas Perpustakan dan Kearsipan Kabupaten Situbondo mengarsipkan empat naskah kuno milik Rebus Susanto, warga Desa Juglangan, Kecamatan Panji, Kamis (8/8).

Total naskah kuno yang didigitalisasi ada empat. Salah satunya kitab perimbon dengan tulisan pegon.

Kabid Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Situbondo, Imas Wijaksono mengatakan, kedatangannya ke Pendopo Murtajaya untuk melakukan alih media dari naskah kuno ke media digital.

“Penyalinan naskah kuno untuk menyelamatkan peninggalan leluhur. Kalau sudah disalin kitab atau buku kami serahkan lagi ke pemilik. Yang penting kami sudah memiliki salinan untuk diarsipkan,” ujar Imas.

Dikatakan, berdasarkan penelitian kasatmata, empat naskah tersebut sudah berusia ratusan tahun.

Sehingga, masuk dalam kategori naskah kuno. Untuk menentukan naskah kuno, syaratnya minimal sudah berumur 50 tahun.

“Kalau dilihat dari kertas, naskah-naskah ini sudah umur ratusan tahun. Ini tulisan tangan semua, ada Alquran, ada kitab yang berisi soal tajwid, ada juga perimbon. Ini ada Bahasa Jawa, tapi tulisan pegon,” ujar Imas.

Dia mengaku, selama ini pihaknya belum mendatangkan ahli bahasa atau aksara untuk melakukan penelitian.

Pihaknya baru melakukan pencarian naskah kuno. Begitu sudah cukup banyak yang terkumpul akan dilakukan pemanggilan ahli.

“Nanti, setelah naskah disalin akan dipanggilkan ahli bahasa untuk menerjemahkan teks dalam naskah kuno,” Ucapnya.

Rebus Susanto, ahli waris dari beberapa kitab menegaskan, naskah kuno itu merupakan warisan dari ibundanya.

Namun sudah tidak pernah dibuka akibat tidak paham dengan bacaan naskah berbahaha arab tersebut.

“Kitab ini adalah warisan dari ibu saya, ibu dapat dari mbah, dan mbah dapat dari kakek. Nah untuk kakek saya ini dapat dari mana saya kurang paham. MBAH saya meninggal tahun 84 kelahiran 1921. Jadi kitab ini tidak pernah dibuka karena tidak ada yang bisa memahami,” ucap Rebus.

Dia melanjutkan, naskah peninggalan leluhurnya itu ada empat. Ada tulisan tangan aLalquran, ada dua kitab, dan satu perimbon.

“Dua tahun lalu sebelum ibu meninggal, kitab perimbon berbahasa madura tapi ditulis arab sering digunakan oleh (alm) ibu saya. Dulu juga sering ada orang datang ke rumah ibu untuk tanya-tanya seputar penyakit,” katanya. 

Kedatangan pihak perpustakaan ke pendopo Murtajaya, kata Rebus, berawar saat rebus mengikuti seminar di Kabupaten Situbondo.

Saat itulah Rebus usul, menyampaikan jika dirinya memiliki kitab kuno. Ternyata dicek dan masuk kategori naskah kuno.

“Buku ini dilirik oleh Dinas Perpustakaan setelah saya hadir ke acara seminar penyalamatan arsip kuno. Saat itulah saya usul jika saya juga punya naskah kuno. Saya hadir dalam acara satu tahu lalu,” pungkas Rebus. (hum/pri)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#situbondo #Dinas Perpustakaan #kearsipan #naskah kuno