RadarSitubondo.id – SD Islam Al Abror Situbondo memilih melakukan lockdown. Pembelajaran tatap muka diliburkan selama lima hari. Ini menyusul ditemukannya puluhan siswa diduga terjangkit virus cacar monyet atau monkeypox.
Siswa SD Islam Al Abror belajar dari rumah via online sejak tanggal 10-14 September 2024. Langkah ini ditempuh sebagai upaya agar tidak ada penularan lebih luas di internal sekolah.
Menurut sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya, sekolah mulai memberlakukan belajar daring selama lima hari. Sejak hari Selasa hingga hari Sabtu. Ini setelah ada beberapa siswa terjangkit virus Cacar Monyet.
“Selama lima hari anak-anak SD Islam Al Abror tidak masuk sekolah. Pihak sekolah memberlakukan belajar via daring di rumah masing-masing,” ujarnya, Selasa (10/9).
Selama di rumah, kata dia, peserta didik fokus untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kemudian, anak-anak diimbau untuk menjaga kesehatan dan menghindari kontak langsung dengan siswa lain yang terjangkit virus cacar.
“Jadi anak-anak yang terpapar ataupun tidak terpapar penyakit cacar ini diminta sekolah untuk tidak kemana-mana. Maka hanya fokus pada pembelajaran yang diberikan guru dan tugas sekolah,” jelasnya.
Kata dia, pembatasan aktivitas di luar rumah itu untuk mencegah penyebaran virus cacar. Sehingga tidak ada masyarakat yang tertular.
“Virus cacar menular. Namun secara pasti dia menularnya melalui cara apa saya tidak tahu. Cuma gurunya bilang seperti itu,” tandasnya.
Kepala SD Islam Al Abror, Sandy Arief Ariana, S.Pd.SD membenarkan jika penyakit cacar telah menyebar kepada puluhan puluhan peserta didik SD Islam Al Abror.
“Ya mas benar. Ada siswa yang sakit cacar sampai 20 orang lebih. Siswa yang terjangkit itu tersebar di masing-masing kelas, mulai dari kelas satu sampai kelas enam,” ucapnya.
Dia menceritakan, siswa yang terjangkit virus cacar awalnya tidak banyak. Hanya terjadi di salah satu ruangan kelas saja. Namun seiring bejalannya waktu, virus tersebut juga menular pada peserta didik lainnya.
“Kami masih belum tahu penyebab awalnya, cuma ketika diselidiki ada salah satu siswa sakit yang ijin kemudian masuk sekolah, lalu ijin lagi karena sakit. Setelah mencari informasi, ternyata yang bersangkutan sakit cacar,” jelasnya.
Sandy menduga, bermula dari siswa itulah yang membuat virus cacar itu menyebar kepada peserta didik lainnya. Akan tetapi dirinya masih mencari keterangan lain untuk mengetahui penyebab awal virus tersebut ada di lingkungan sekolah.
“Namun saya tidak tahu apakah siswa itu bawa dari lingkungan rumah ke sekolah atau seperti apa saya masih belum tau pasti,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Salis Ali Muhyidin