Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Begini Jeritan Hati Sopir Angkutan di Situbondo, Berharap Pemerintah Ikut Campur Tangan

Iwan Feriyanto • Kamis, 31 Oktober 2024 | 14:54 WIB
AKTIF BEROPERASI: Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan bus di terminal Situbondo, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Rabu (30/10).
AKTIF BEROPERASI: Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan bus di terminal Situbondo, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Rabu (30/10).

RadarSitubondo.id – Kendaraan yang melayani jasa angkutan umum semakin lesu lantaran minim penumpang.

Keadaan ini membutuhkan campur tangan pemerintah. Sehingga, para pelaku dalam bidang angkutan umum bisa terus bertahan dan sejahtera.

Salah satu sopir bus, Ariadi mengatakan, semakin hari jumlah penumpang terus menurun. Terutama jalur Situbondo menuju terminal Arjasa, Jember.

Banyak penumpang yang sudah tidak menggunakan angkutan umum karena bisa menggunakan kendaraan sendiri.

“Kalau dulu biasanya banyak penumpang mahasiswa ke Jember. Sekarang sudah berkurang. Paling sudah naik sepeda sendiri dari pada naik bus,” ujarnya, Rabu (30/10).

Ariadi mengaku pernah mengendarai bus dari Situbondo ke Jember dengan penumpang yang sangat terbatas.

“Waktu itu jam nya kendaraan saya berangkat. Meskipun hanya membawa beberapa orang saja tetap jalan. Karena sudah jadwalnya berangkat dari terminal Situbondo,” ucapnya.

Dikatakan, minimnya penumpang angkutan umum sangat berpengaruh terhadap uang karcis yang didapatkan.

Bahkan, untuk menutupi biaya bahan bakar minyak (BBM) kadang tidak cukup. Terpaksa menggunakan uang pribadi.

Ariadi berharap pemerintah dapat memberikan solusi meningkatkan daya tarik masyarakat menggunakan angkutan umum. Sehingga, keberadaan bus di Situbondo dapat beroperasi lancar kembali.

“Kalau bisa pemerintah membantu nasib kami. Bagaimana warga sekiranya mau naik bus. Kan lumayan nambah-nambah penumpang,” harapnya.

Sementara itu, salah satu pedagang, Fitri mengaku usaha yang dijalani selama bertahun-tahun di area terminal sepi pembeli.

Ini disebabkan penumpang bus yang ada di terminal sedikit, berbeda dengan tahun-tahun lalu ketika masih banyak warga yang naik angkutan umum.

“Sekarang bisa bertahan jualan sudah untung. Karena pembelinya sudah hampir tidak ada. Peminatnya semakin sedikit,” ucapnya.

Disebutkan, pendapatannya setiap hari paling tinggi Rp 100 ribu. Itu pun hari-hari tertentu saja ketika memasuki hari libur kerja. Sedangkan dihari lainnya, pendapatan yang diperoleh sekitar Rp 50 ribu.

“Tetap disyukuri berapa pun yang didapatkan. Bagaimanapun yang namanya usaha tidak boleh mudah menyerah. Karena kalau berhenti jualan keluarga mau dapat penghasilan dari mana?,” pungkasnya. (wan/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #bus #sepi penumpang #angkutan umum #sopir #kendaraan