RADARSITUBONDO.ID – Musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini diperkirakan mulai terasa sejak awal bulan ini dan berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Karena itu, warga diminta waspada dan menjaga lahan maupun permukiman yang berpotensi terjadi kebakaran.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan, sehingga perlu diwaspadai sejak dini. “Kalau dilihat dari data yang diprediksi oleh BMKG, kemarau tahun ini agak lama. Sehingga, Pemadam Kebakaran (Damkar) mulai mempersiapkan diri untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran,” kata Humas Damkar Situbondo, Hidayat.
Dayat, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kondisi panas saat musim kemarau yang dapat memicu kebakaran diperkirakan berlangsung sejak bulan ini hingga kemungkinan besar sampai Oktober atau November. Durasi tersebut dinilai lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana musim kemarau biasanya hanya berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. “Dari data BMKG, kemarau diperkirakan mulai April hingga November, dan pada Desember baru akan mulai turun hujan,” jelasnya.
Dia menambahkan, BMKG juga telah mengeluarkan imbauan kepada berbagai pihak, baik BPBD maupun Damkar, agar mengantisipasi potensi kejadian selama musim kemarau, khususnya kebakaran. “Imbauan itu bukan hanya dari Damkar, tetapi langsung dari BMKG,” tambahnya.
Menurutnya, pihak Damkar sudah mulai meningkatkan kewaspadaan sejak sekarang, mengingat risiko yang akan dihadapi selama musim kemarau cukup tinggi. “Iya, Damkar mulai bersiap sejak saat ini karena musim kemarau akan segera datang,” ujarnya.
Selain potensi kebakaran, Dayat juga mengungkapkan bahwa ancaman kekeringan dan kekurangan air bersih di wilayah rawan perlu diantisipasi. Wilayah yang sering terdampak, terutama daerah pegunungan, akan menjadi perhatian untuk penyaluran bantuan air bersih. “Biasanya wilayah pegunungan di beberapa daerah yang terdampak. Datanya ada di BPBD,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono