RADARSITUBONDO.ID - H. Hijir Ismail sudah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai ketua Pusat Komando Palopor di Kabupaten Situbondo. Pengabdiannya terhadap organisasi tersebut murni untuk melanjutkan perjuangan Pahlawan Nasioanl Kiai As'ad Syamsul Arifin. Sebab, palopor dibentuk untuk merangkul bajingan maupun bromocorah agar bertobat, sekaligus ikut menjaga keamanan NKRI.
Palopor murni dibentuk untuk merangkul para bajingan agar bisa bertobat. Begitu mereka sudah tergabung dalam barisan Palopor, pasti diajak berjuang untuk menjaga keamanan Pondok Pesantren (Ponpes) Sukorejo, terutama NKRI.
“Kiai As’ad membentuk palopor untuk merangkul bajingan. Yang berhasil dirangkul diajak menjadi benteng pesantren juga menjaga keamanan NKRI,” ujar H. Ismail, Minggu (19/4).
Dia mengaku, sudah tidak ingat pada tahun berapa menjabat sebagai Ketua Pusat Komando Palopor. Yang pasti sudah puluhan tahun. Tepatnya pada saat kepemimpinan Kiai Fawaid As’ad hingga Kiai Azaim Ibrahimy.
“Palopor yang masih eksis hingga saat ini sudah melalui tiga kepemimpinan. Pemimpin pertama Palopor adalah Kiai Zainullah Johar. Ke dua dijabat oleh Kasmoto, dan ke tiga adalah saya,” tutur Ismail.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pokdar Kamtibmas Polres Situbondo, itu mengaku tak pernah mengenal kata lelah dalam mengabdikan diri terhadap Pondok Pesantren (Ponpes) Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Lebih dari itu, dia juga ikut terus menjaga ketertiban wilayah Situbondo dari para berandalan.
“Sampai saat ini Palopor tetap menangkap bajingan, hampir semua maling yang ditangkap tidak luput dari gerakan Palopor. Dulu saya juga pernah dikoroyok sebanyak 40 orang. Lawannya ada yang pakai celurit dan bom molotof. Alhamdulillah musuh yang banyak bisa saya pukul mundur,” ujar Ismail.
Dia mengaku, pernah menangkap maling di Dusun Kayumas, Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa. Bahkan pernah membekluk maling di arena arisan pencak silat di Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa.
“Dulu saya dikenal sebagai Mas Jaka, karena saat itu saya kurus kerempeng. Gimana mau berisi, tiap malam begadang menjaga kamtibmas dengan kesadaran para anggota Palopor,” ucapnya.
dikatakan, penjahat pada zaman dahulu sangat kejam. Begitu mau mencuri, tidak pandang siang dan malam. Cara kerjanya juga sangat sadis. Tak jarang korban dicuri hartanya lalu diperkosa bahkan dibunuh.
“Cara untuk mengatasi orang jahat ya harus bertarung kalau menang baru musuh dirangkul, ya sabar adalah kunci utama,” tutup H. Ismail. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono