RADARSITUBONDO.ID – Dr. Mohammad Yahya Arief dikenal sebagai sosok inspiratif yang memiliki kepedulian tinggi terhadap mahasiswa dan alumni. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Pascasarjana di salah satu kampus ternama di Situbondo, yakni Universitas Abdurrahman Saleh (UNARS).
Meski telah menduduki jabatan strategis, Yahya sapaan akrabnya, tetap menjunjung tinggi semangat belajar.
Baginya, proses belajar tidak pernah berhenti, terlepas dari posisi atau jabatan yang dimiliki. Sebagai dosen visioner, Yahya memiliki pengalaman luas di dunia akademik. Dia tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga terus melakukan berbagai penelitian yang menghasilkan temuan-temuan baru. Bahkan, beberapa di antaranya disebut belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.
Komitmennya terhadap dunia pendidikan juga ditunjukkan dengan upayanya mendorong mahasiswa, khususnya di jenjang S1, agar terus berkembang. Ia aktif memberikan motivasi, baik kepada mahasiswa, alumni, maupun siapa saja yang memiliki semangat untuk belajar.
“Artinya, sebagai orang yang peduli terhadap pendidikan, kita harus terus mengarahkan dan mendorong agar kualitas pendidikan semakin meningkat,” ujar Yahya.
Dia juga menjelaskan bahwa dirinya terus melakukan berbagai terobosan melalui kompetensi yang dimiliki, terutama dalam bidang penelitian. Ia mengajak mahasiswa untuk aktif terlibat, mulai dari yang awalnya tidak tertarik hingga akhirnya memiliki minat untuk terus belajar dan berinovasi.
“Saya ingin mahasiswa itu terlibat aktif. Dari yang awalnya tidak tertarik menjadi tertarik, lalu terus mengasah kemampuan dan belajar,” imbuhnya.
Menurut Yahya, mahasiswa yang memiliki ide cemerlang sering kali hanya kekurangan wadah. Oleh karena itu, ia berupaya memberikan ruang dan pendampingan agar ide-ide tersebut bisa diwujudkan melalui penelitian atau kegiatan yang bermanfaat.
“Yang penting adalah melakukan sesuatu yang bernilai. Dengan terus berkumpul dan belajar, secara tidak langsung mereka akan menemukan ilmunya dan semakin semangat mengembangkan ide-ide lainnya,” jelasnya.
Dosen tetap Fakultas Ekonomi Unars tersebut menilai bahwa penelitian merupakan salah satu cara terbaik untuk mengasah keilmuan. Saat ini, ia tengah melakukan penelitian terkait pemuliaan benih padi. Dari hasil penelitiannya, ditemukan sekitar 21 jenis benih padi yang diambil dari Subang dan kemudian dikembangkan lebih lanjut.
Tidak sebatas itu, saat pandemi Covid-19, Yahya juga melakukan penelitian terhadap cairan asap yang dihasilkan dari batok kelapa. Penelitian tersebut dilakukan bahkan sebelum adanya vaksin, dan hasilnya sempat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bersama mahasiswa UNARS.
“Saat itu banyak yang mencemooh karena dianggap di luar nalar. Namun, kami membuktikan bahwa penelitian tersebut memiliki manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa inovasi sering kali tidak langsung diterima. Namun, dengan ketekunan dan pembuktian, hasil penelitian yang awalnya dianggap tidak berguna justru dapat memberikan manfaat besar.
“Orang yang memahami ilmu akan tahu bagaimana cara mencarinya. Rasa penasaran itulah yang mendorong untuk terus mencoba dan melakukan penelitian hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tambahnya.
Yahya mulai aktif di dunia pendidikan sejak tahun 2004. Namun, ia benar-benar berkarier sebagai dosen setelah meraih gelar doktor pada tahun 2017. Sebelumnya, ia juga pernah mengajar di Sekolah Tinggi Angkatan Laut dalam bidang energi terbarukan sebuah bidang yang saat itu masih belum banyak dikembangkan di Indonesia.
“Sebelum menjadi dosen, saya pernah mengajar di Sekolah Tinggi Angkatan Laut terkait energi terbarukan, yang saat itu belum banyak dikembangkan di negara ini,” tutupnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono