RADARSITUBONDO.ID - Askim, 50, beserta dua anaknya, Ayu, 20, dan mamat, 16, menempati rumah tidak layak huni. Yang memilukan ruangan hanya diterangi lampu teplok. Jika hujan, hampir semua perabotan rumah tangga basah. Namun dua anak bapak parobaya tersebut masih semangat sekolah hingga duduk di bangku SMK.
Ayu, putri Askim mengatakan, bapaknya merupakan pria yang tangguh. Meskipun hidup dalam keadaan sangat tidak mampu, namun tetap berjuang untuk memasukkan putra putrinya ke sekolah.
“Saya baru selesai ikut ujian akhir SMK. Tinggal nunggu wisuda saja. Yang membiayai sekolah ya bapak saya. Adik saya masih kelas 2 SMK,” ujar Ayu, pada jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, Minggu (3/5).
Dia bercita-cita untuk melanjutkan kuliah. Namun cita-citanya sangat tipis untuk digapai. Sebab ekonomi keluarga sangat tidak mendukung. Bahkan untuk menyambung hidup, dia harus bekerja setelah dinyatakan lulus sekolah.
“Sekarang saya sudah bekerja jaga toko obat. Lumayan untuk tambahan biaya hidup sehari-hari. Hitung-hitung bantu beban bapak yang masih menyekolahkan adik saya,” tutur Ayu.
Pekerjaan sang ayah serabutan. Kadang mencari telur kroto, kadang melaut, juga menjadi buruh tani. Apapun pekerjaan yang bisa menguntungkan asal halal pasti dikerjakan. Namun usahanya belum mampu membangun rumah yang layak akibat mememperjuangkan pendidikan anak-anaknya.
“Tanah yang ditempati rumah saat ini hanya numpang, ukuran rumah juga sempit. Ini rumah kan terbuat dari kayu saja, ya kalau malam kami kedinginan. Kalau hujan semua perabotan rumah basah gara-gara bocor,” cetus Ayu.
Bahkan untuk memberi penerangan listrik saja tidak mampu. Begitu malam tiba, ruang rumah hanya diterangi dengan lampu teplok. Sebab untuk memasukkan aliran listrik butuh biaya yang tidak sedikit.
“Listrik bisa masuk kalau beli kabel. Butuh kabel listrik sekitar 10 meter. Kalau beli kan sekitar Rp 250 an. Kalau isi batre ponsel ya numpang ke tetangga,” tegas Ayu.
Anak pertama itu mengaku, sebelumnya sempat tinggal di Jalan Merak, menempati tanah dan rumah warisan. Namun rumah tersebut sudah dijual. Selanjutnya mencari lahan yang bisa ditempati dan menemukan di Desa Trebungan.
“Dulu menempati rumah warisan nenek moyang, tapi sudah dijual untuk kebutuhan biaya hidup. Menempati rumah yang saat ini sekitar tahun 2019,” ucap Ayu.
Ketua Pokdar Kamtibmas, H. Hijir Ismail, mengaku sudah meninjau rumah milik pak Askim. Selanjutkan bakal diaadakan bedah rumah. Setidaknya rumah yang ditempati Askim dan dua anaknya menjadi layak huni.
“Kami berencana untuk merehap rumah milik pak Askim. Benar-benar kasihan, masak di zaman seperti ini masih ada warga yang menggunakan lampu teplok. Ini benar-benar memprihatinkan,” tutup H. Hijir Ismail. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono