RADARSITUBONDO.ID – Ijazah SMA tak menyurutkan langkah Bayu Agustinus, 40 untuk memberikan manfaat. Warga Desa Talkandang, Kecamatan Kota Situbondo itu membuktikan, keterbatasan pendidikan bukan alasan untuk tidak berkarya. Sejak 2024, Bayu sukses mendirikan pabrik kabel di desanya. Dia lulusan SMA Panarukan.
Awalnya, Bayu hanya seorang sales marketing kabel pada tahun 2014. Dia memasarkan kabel milik salah satu pabrik.
Selanjutnya dia mencoba buka toko elektronik di Bali. Hingga akhirnya berkembang dan ekonominya mulai meroket.
“Motivasi jualan kabel karena kabel seperti emas, harganya naik terus,” ujar Komisaris PT. Indo Karya Bersama, pada Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, kamis (7/5).
Rencana membuat pabrik muncul saat seorang teman dekat menawarkan mesin bekas dengan harga yang cukup murah. Meski tak paham mesin, Bayu langsung sepakat. Dalam pikirannya hanya ingin bisa membuat kabel sendiri.
“Dalam pikiran saya hanya ingin tahu cara bikin kabel. Intinya beli mesin dulu baru belajar,” katanya.
Saat mesin datang, Bayu kebingungan. Sebab hanya ada mesin namun tidak paham cara mengoperasikan. Untuk mengutak atik mesin yang baru, dia mencoba melihat tutorial di Youtube. Selain itu juga mendatangkan teknisi asal Jakarta untuk itu membuat kabel.
“Saya belajar bikin kabel malah dari YouTube saja. Habis itu ketemu seseorang yang paham bikin panel. Dari situlah saya bisa bikin kabel,” ungkapnya.
Kini pabrik kabel Bayu sudah tegak berdiri di tengah lingkungan warga Desa Talkandang. Puluhan karyawan juga direkrut. Mereka bekerja setiap hari dan mendapat gaji bulanan.
“Saya hanya ingin menciptakan lapangan kerja untuk warga Situbondo. Sekarang banyak orang kaya, banyak juga yang pinter ngomong tapi enggan menciptakan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar, lalu apa gunanya banyak harta,” cetus Bayu.
Meski dilahirkan dari keluarga tak mampu, Bayu berani memulai. Produksi memang belum bisa stok banyak. Namun, penjualan merek Stubo dalam sebulan bisa habis ratusan rol. Dijual di Bali. “Pabrik kabel di Desa Talkandang itu hanya fokus produksi. Penjualan dipusatkan di Bali,” katanya.
Bayu mengklaim Stubo Kabel memiliki keunggulan yang bisa diuji. Yaitu menggunakan tembaga murni, ukuran presisi, dan sudah berlabel SNI.
“Harganya menengah, kualitasnya tinggi. Soal izin beroparasi lengkap,” tegas pria yang suka membangun musalah tersebut.
Manager produksi, PT. Indo karya Bersama, Ahmad Arifin, menegaskan bahwa pembangunan pabrik sempat menual protes dari sejumlah warga sekitar. Pabrik tersebut diprediksi bakal menimbulkan kebisingan dan mencemari lingkungan.
“Warga yang masih awam mengkritik, mengira mesin yang bakal kami gunakan diesel. Faktanya, pabrik kami hanya menggunakan dinamo dan tidak bising. Ini dinamonya saja 13 motor produksi. Soal limbah juga diberikan ke ikan. Ikannya hidup,” tuturnya.
Salah satu warga yang enggan namanya disebutkan mengapresiasi keberadaan pabrik di dekat rumahnya. Manfaatnya sangat tampak. Terbukti ada puluhan karyawan asli warga desa talkadang yang dipekerjakan.
“Saya heran pada bosnya Pabrik ini. Hanya lulusan SMA, bukan keturunan orang kaya, tapi mampu mempekerjakan 30 karyawan,” ucap pria yang memiliki rumah di selatan pabrik kabel.
Dikatakan, pemilik pabrik unik. Setiap bulan memberi sumbangan pada pengajar madrasah diniyah. Selain itu rutin memberi beras pada warga sekitar. Bahkan membangun musalah di beberapa tempat.
“Itu bangunkan musala di beberapa tempat, juga bayar guru madrasah di dekat rumahnya. Warga banyak yang heran. Malah, orang yang dulu sempat menyoal pabriknya juga memasukkan putranya menjadi karyawan,” tutup pria yang berbadan kekar tersebut. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono