Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Musim Haji dan Pernikahan Tiba, Permintaan Bunga Melati di Situbondo Meledak, Harga Kini Dihitung per Kilo

Ahmad Rifa'ie • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:45 WIB
MULAI MENINGKAT: Seorang warga memetik bunga melati karena meningkatnya permintaan pada musim pernikahan di Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo, Selasa (19/5). (Ahmad Rifa
MULAI MENINGKAT: Seorang warga memetik bunga melati karena meningkatnya permintaan pada musim pernikahan di Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo, Selasa (19/5). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Permintaan Bunga Melati kepada petani di Situbondo mulai meningkat. Ini seiring dengan datangnya musim pernikahan. Permintaan barang datang dari berbagai daerah.

Marsumi, 50, warga di Gang Melati, Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo mengakui mulai merasakan meningkatnya permintaan Bunga Melati untuk dijadikan atribut dalam acara pernikahan. Diakui, keadaan tersebut tidak hanya karena masyarakat banyak menggelar acara pernikahan. Tapi juga acara lainnya seperti selamatan anak.

“Kalau momen hari raya (Idul Adha) seperti saat ini biasanya banyak yang mengadakan acara pernikahan, sehingga permintaan bunga Melati meningkat,” kata Marsumi, Selasa (19/5).

Dia mengaku, sebelum memasuki bulan haji, dirinya biasanya memetik bunga Melati hanya saat ada pesanan. Bunga yang dipetik pun hanya yang sudah mekar agar tetap tersedia jika sewaktu-waktu ada pesanan mendadak. Namun kini, karena pesanan meningkat, dirinya harus mulai bekerja sejak pagi hari agar hasil petikan lebih banyak. “Kalau hari biasa saya memetik dari jam lima pagi sampai sekitar jam 12 siang. Kalau pesanan sedang ramai, bisa sampai sore,” tambahnya.

Menurutnya, hampir setiap hari dirinya kini bekerja memetik bunga melati akibat pesanan yang membeludak. Kondisi tersebut membuatnya tidak perlu mencari pekerjaan lain. Meski terlihat sederhana, pekerjaan ini menjadi penopang ekonomi keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga di lingkungan sekitar.

Pendapatan yang diterima pun dirasa cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Jika sebelumnya penghasilan hanya sekitar Rp 50 ribu per hari, kini bisa lebih dari itu karena tingginya permintaan. “Untuk satu kuntum bunga melati dihargai Rp 1.000. Kalau seperti saat ini biasanya dihitung kiloan, nanti bayarannya menyesuaikan,” bebernya.

Marsumi menambahkan, pekerjaan memetik bunga Melati membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bunga harus dipetik dalam kondisi segar agar kualitasnya tetap terjaga saat sampai ke tangan pembeli. “Dari sana menjadi motivasi tersendiri bagi para pekerja untuk mengumpulkan bunga sebanyak mungkin setiap harinya,” jelasnya.

Sementara itu, Idah, 70, pemetik melati lainnya, mengaku tetap semangat bekerja meski usianya sudah tidak muda lagi. Dia setiap hari memetik bunga Melati demi membantu kebutuhan ekonomi keluarga. “Saya sudah lama memetik Melati. Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk tambahan kebutuhan sehari-hari. Kalau musim ramai, penghasilannya lumayan lebih banyak,” kata Idah.

Menurut Idah, usaha budidaya bunga Melati menjadi salah satu bukti bahwa sektor pertanian skala kecil masih memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Dengan ketekunan dan kerja keras, warga Talkandang mampu menjadikan usaha yang dianggap sederhana menjadi penopang perekonomian keluarga. “Saya yakin bunga-bunga harum ini bisa menjadi salah satu sumber penghidupan yang akan terus berkembang,” tambahnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #melati #Haji 2026