Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Hama Tikus Mengganas di Situbondo, 123 Hektare Sawah Rusak dan Sebagian Puso

Ahmad Rifa'ie • Rabu, 3 Juni 2026 | 20:05 WIB

BISA GAGAL PANEN: Sebagian lahan persawahan milik warga mengalami kerusakan akibat serangan hama tikus di Kecamatan Kapongan, Situbondo, Rabu (3/6). (Ahmad Rifa

BISA GAGAL PANEN: Sebagian lahan persawahan milik warga mengalami kerusakan akibat serangan hama tikus di Kecamatan Kapongan, Situbondo, Rabu (3/6). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO – Sepanjang Mei 2026 terdapat 123,8 hektare lahan pertanian yang terdampak serangan hama tikus. Akibatnya, sebagian petani mengalami gagal panen.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo mencatat, luas tanaman padi yang terdampak serangan hama tikus mencapai 123,8 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah di Situbondo. Dari total luasan tersebut, sebagian di antaranya mengalami serangan berat hingga menyebabkan gagal panen pada musim panen saat ini.

“Pada bulan Mei tercatat tanaman padi yang terserang hama tikus seluas 123,8 hektare. Dari jumlah tersebut, kategori serangan berat mencapai 5,3 hektare dan puso atau gagal panen seluas 3,8 hektare,” kata Qurrotul Aini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispertangan Situbondo.

Menurutnya, hama tikus tidak hanya menyerang tanaman padi, tetapi juga ditemukan pada lahan jagung. Luas serangan pada tanaman jagung mencapai 13,7 hektare. “Namun hingga saat ini belum ditemukan tanaman jagung yang mengalami puso akibat serangan tersebut,” tambahnya.

Meningkatnya serangan hama tikus membuat Dispertangan mengintensifkan langkah pengendalian di lapangan. Salah satunya melalui gerakan pengendalian massal (gerdal) yang dilakukan bersama kelompok tani di beberapa kecamatan terdampak. “Pengendalian terus kami lakukan melalui gerakan massal di sejumlah lokasi yang mengalami serangan,” ujarnya.

Qurrotul Aini mengungkapkan, pengendalian hama tikus akan lebih efektif apabila dilakukan secara serentak dibandingkan secara individu oleh masing-masing petani. Karena itu, Dispertangan terus mendorong petani untuk berkoordinasi dengan kelompok tani dan petugas pertanian di lapangan, baik Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) maupun Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). “Jika dilakukan sendiri-sendiri, hasilnya kurang maksimal. Oleh sebab itu, kami meminta para petani melakukan pengendalian secara serempak dalam satu kawasan hamparan,” jelasnya.

Qurrotul Aini juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dengan melindungi predator alami tikus. Hewan seperti musang liar, ular, hingga burung hantu dinilai memiliki peran penting dalam menekan populasi hama di area pertanian. “Masyarakat kami imbau tidak membunuh musuh alami tikus karena sangat membantu petani dalam pengendalian populasi hama,” pungkasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #hama tikus #petani