Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk di Dunia Pagi Ini, AQI Tembus 171 dan Masuk Kategori Tidak Sehat

Bayu Shaputra • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi seorang pria yang menggunakan masker ketika polusi udara. (Freepik)
Ilustrasi seorang pria yang menggunakan masker ketika polusi udara. (Freepik)

 

RADARSITUBONDO.ID - Kondisi kualitas udara Jakarta kembali berada pada titik mengkhawatirkan. Pada Kamis (4/6) pagi, ibu kota Indonesia bahkan tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, mengungguli sejumlah kota besar lain yang selama ini identik dengan tingkat polusi tinggi.

Berdasarkan data pemantauan kualitas udara global IQAir pada pukul 06.10 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta mencapai angka 171. Angka tersebut menempatkan Jakarta pada kategori tidak sehat (unhealthy) dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 84 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Tingkat polusi tersebut jauh di atas ambang aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Baca Juga: Pohon Kelapa Tumbang Timpa Rumah Warga Sumberwaru Situbondo, Kerugian Capai Rp35 Juta

Jakarta Lampaui Sejumlah Kota Besar Dunia

Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk versi IQAir pada Kamis pagi, Jakarta berada di posisi pertama dunia.

Berikut lima kota dengan kualitas udara terburuk:

Posisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pencemaran udara di Jakarta pada pagi hari lebih buruk dibandingkan sejumlah kota yang selama ini dikenal memiliki persoalan emisi dan polusi serius.

Baca Juga: Tragis! Pemotor di Situbondo Tewas Ditabrak Truk Tronton Saat Coba Mendahului

Kategori AQI 171 masuk dalam kelompok tidak sehat, yang berarti kualitas udara dapat menimbulkan dampak negatif bagi kelompok sensitif dan mulai memengaruhi masyarakat umum apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.

Paparan partikel PM2.5 menjadi perhatian utama karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke dalam paru-paru bahkan aliran darah manusia.

Selain berdampak terhadap kesehatan manusia, tingkat pencemaran udara pada kategori ini juga berpotensi mengganggu kesehatan hewan yang sensitif, merusak tanaman, serta menurunkan kualitas lingkungan dan nilai estetika kawasan perkotaan.

Baca Juga: Konflik Lahan PT Budidaya Tampora Memanas, DPRD Situbondo Turun Tangan Mediasi Warga

Menyikapi kondisi tersebut, IQAir merekomendasikan sejumlah langkah perlindungan diri bagi masyarakat.

Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi hari ketika konsentrasi polutan masih tinggi. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi langkah yang dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel berbahaya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menutup jendela rumah maupun kantor guna mencegah masuknya udara tercemar dari luar ruangan.

Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat tingginya konsentrasi polusi udara.

Baca Juga: 98 Sekolah di Situbondo Belum Punya Kepsek Definitif, Guru Enggan Ambil Jabatan

Di tengah masih tingginya tingkat pencemaran udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup terus mengajak masyarakat berpartisipasi dalam upaya pengendalian emisi.

Salah satu program yang saat ini digencarkan adalah kampanye kolaboratif #SatuLangkahDulu yang digagas melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Purwanti Suryandari mengatakan kampanye tersebut bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa perbaikan kualitas udara membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

"Melalui kampanye #SatuLangkahDulu, kami ingin membangun semangat satu pesan dengan beragam aksi, baik melalui kampanye media sosial, aksi bersama, praktik baik pengurangan pencemaran udara, maupun challenge untuk warga Jakarta," ujar Purwanti pada 26 Mei 2026.

Menurutnya, perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

Editor : Bayu Shaputra
#kualitas udara Jakarta #AQI #polusi