Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Tradisi Langka Malam 1 Muharram di Kapongan, Santri Minum Susu demi Keberkahan dan Kesucian Hati

Ahmad Rifa'ie • Selasa, 16 Juni 2026 | 20:18 WIB
TRADISI: Habib Muhammad Taufiq Al Djufri menuangkan susu ke dalam cangkir untuk diminum bersama para santrinya pada malam pergantian Tahun Baru Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Senin (15/6) malam. (Ahmad Rifa
TRADISI: Habib Muhammad Taufiq Al Djufri menuangkan susu ke dalam cangkir untuk diminum bersama para santrinya pada malam pergantian Tahun Baru Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Senin (15/6) malam. (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Malam 1 Muharram atau Tahun Baru Islam menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk menjalankan berbagai amalan dan tradisi yang sarat makna. Salah satunya yang kini mulai jarang dijumpai adalah kebiasaan minum susu pada malam pergantian tahun Hijriah.

Tradisi minum susu perlahan mulai terkikis. Tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat. Padahal, minum susu pada malam Tahun Baru Islam memiliki makna yang mendalam, yakni sebagai simbol kesucian, kebersihan hati, serta harapan akan kesehatan dan keberkahan hidup.

Meski demikian, tradisi tersebut masih tetap dijaga dan dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Huda, Peleyan, Kecamatan Kapongan, pada Senin malam (15/6). Bagi kalangan pesantren, minum susu pada malam 1 Muharram merupakan simbol kehidupan, kesucian, serta harapan agar memperoleh keberkahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Habib Muhammad Taufiq Al Djufri, menjelaskan bahwa tradisi minum susu saat pergantian tahun Hijriah memiliki makna khusus. Warna susu yang putih melambangkan kesucian, kebersihan, kejernihan hati, serta harapan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

"Susu adalah minuman yang disukai seluruh makhluk. Simbolnya adalah kesucian dan kejernihan dalam segala hal. Harapannya, manusia dapat menjalani kehidupan ke depan dengan hati yang bersih, suci, dan penuh keberkahan," ujarnya.

Habib Muhammad, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa susu dipilih sebagai simbol pergantian tahun Islam karena susu merupakan lambang awal kehidupan setiap makhluk, termasuk manusia. "Susu mewakili kehidupan. Semangat hidup itu dibangun sejak awal melalui air susu ibu yang menjadi sumber kehidupan pertama bagi manusia," tambahnya.

Menurutnya, selain sebagai bentuk ikhtiar mengharap keberkahan dunia dan akhirat, tradisi minum susu juga merupakan upaya melestarikan ajaran para guru dan tradisi yang diwariskan sejak masa Rasulullah SAW. Tradisi tersebut dilakukan setiap malam 1 Muharram sebagai simbol kebersihan hati dan harapan akan keberkahan hidup.

"Sudah beberapa tahun kami membiasakan berkumpul bersama para santri setiap malam 1 Muharram untuk minum susu. Tujuannya tidak lain sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi dan mengingat makna kesucian," jelasnya.

Habib Muhammad juga menjelaskan bahwa para ulama tidak pernah mewajibkan umat Islam untuk meminum susu pada malam 1 Muharram. Namun, dalam perkembangan budaya masyarakat, khususnya di Madura, tradisi tersebut diwujudkan dalam bentuk pembuatan bubur putih atau yang dikenal dengan sebutan Tajin Sora.

Menurutnya, penggunaan Tajin Sora tetap memiliki makna yang sama karena warna putih pada bubur tersebut melambangkan kesucian sebagaimana warna susu. Biasanya, bubur tersebut diberi pelengkap atau topping, kemudian dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk berbagi keberkahan.

"Tradisi ini juga dilestarikan oleh masyarakat Madura. Hanya saja, bentuknya berkembang dari minum susu menjadi membuat Tajin Sora. Itu merupakan kreativitas masyarakat terdahulu dalam menjaga makna yang terkandung di dalamnya," katanya.

Di akhir keterangannya, Habib Muhammad berharap momentum pergantian Tahun Baru Islam yang identik dengan warna putih, baik dari susu, pakaian, maupun Tajin Sora, dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa membersihkan diri dari berbagai perbuatan buruk dan meningkatkan kualitas keimanan. "Semoga pergantian tahun yang ditandai dengan simbol-simbol kesucian ini dapat membawa kita semua menuju kehidupan yang lebih bersih, suci, dan penuh keberkahan sebagaimana yang kita harapkan bersama," pungkasnya. (pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #1 Muharam #minum susu #nurul huda