Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Petambak Tradisional Merugi, Limbah PT Bumi Subur Disebut Cemari Sungai dan Matikan Bibit Udang

Moh Humaidi Hidayatullah • Selasa, 23 Juni 2026 | 20:40 WIB
MERESAHKAN: Salah satu warga  menunjukkan lokasi pembuangan limbah tambak udang milik PT. Bumi Subur di Desa Peleyan Barat, Kecamatan Panarukan, Selasa (23/6). (HUMAIDI/JPRS)
MERESAHKAN: Salah satu warga menunjukkan lokasi pembuangan limbah tambak udang milik PT. Bumi Subur di Desa Peleyan Barat, Kecamatan Panarukan, Selasa (23/6). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Petambak tradisional di Desa Peleyan Barat, Kecamatan Panarukan, mengeluh. Sebab, ada tambak udang milik PT Bumi Subur 10 (BS 10) yang membuang limbah ke aliran sungai.

Mat Fausi, 49, warga Desa Peleyan Barat, menerangkan bahwa dampak pembuangan limbah cukup banyak.  Yang paling nyata adalah merusak tebing sungai yang bermuara ke laut.

Selain itu pembuangan limbah juga mengakibatkan sungai menjadi dangkal. “Waktu musim hujan debit air naik. Air meluap ke sawah warga. Pertanian jadi kurang bagus,” ungkap Fauzi, pada jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, Selasa (23/6).

Kata dia, mata pencaharian warga yang mengelola tambak tradisional juga terganggu. Betapa tidak, air sungai yang tercemar limbah PT. BS 10 diduga mengandung bahan kimia yang mengakibatkan bibit udang di tambak tradisional banyak yang mati.

"Lokasi tambak tradisional milik warga dan saya hanya berjarak sekitar 700 meter dari PT BS 10. Karena limbah BS 10 masuk ke tambak kami, jadinya penebaran bibit udang tidak maksimal, banyak yang terdampak," imbuh Fauzi.

Dia berharap, tambak yang disebut-sebut terbesar di Situbondo, seharusnya mampu membuat saluran pembuangan langsung ke laut, bukan lewat sungai yang masih dibutuhkan warga sekitar.

“Harapan warga sederhana, pembuangan limbah jangan dibuang ke sungai dan selokannya ditutup. Solusinya BS 10 tinggal alihkan limbah ke laut langsung pakai pipa. Ini tambak terbesar, masa bikin pipa pembuangan tidak mampu,” tegasnya.

Dia mengaku sudah mengajukan keluhan ke pihak tambak sekian bulan yang lalu dan berharap ada tindakan tegas agar tambak tradisional tidak terus dirugikan. "Kami sudah laporan juga ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH), katanya,  besok (hari ini) mau tinjau. Semoga saja ada ketegasan," tegas Fauzi.

Salah satu petugas bagian umum PT. Bumi Subur, Supriyo mengaku bahwa DLH sudah turun tangan merespon keluhan warga. Selanjutnya bakal dicarikan solusi. Yaitu bakal membuat pembuangan air limbah yang tidak melalui sungai, seperti yang diharapkan warga. "Kalau IPAL ada tapi tidak dipakek, ini rencana mau didalamkan IPAL nya," kata Supriyo.

Kata dia, jika menginginkan informasi yang lebih pasti bisa datang langsung ke PT. Bumi Subur. "Kalau mau ke tambak silahkan, hubungi saya," tutup Supriyo. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #limbah tambak