Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Miris! Warga Gunung Putri Situbondo Tempuh 1,5 Jam Jalan Kaki untuk Mendapatkan Air Bersih

Ahmad Rifa'ie • Jumat, 26 Juni 2026 | 20:44 WIB
DEMI KEBUTUHAN: Seorang warga membawa air melintasi medan naik-turun perbukitan di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Senin (22/6). (Ahmad Rifa
DEMI KEBUTUHAN: Seorang warga membawa air melintasi medan naik-turun perbukitan di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Senin (22/6). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Musim kemarau yang mulai melanda menyebabkan debit sejumlah mata air di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, terus menurun. Kondisi tersebut memaksa sebagian warga berjalan kaki hingga 1,5 jam setiap hari demi mendapatkan air bersih.

Salah satu warga, Arpa, 55, mengaku harus berjalan kaki menuju sumber mata air yang berada di sebuah lembah cukup jauh dari rumahnya. Medan yang dilalui pun tidak mudah karena harus melewati tanjakan dan turunan bukit.

Meski berat, hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. "Saya hampir setiap hari, pagi dan sore, datang ke lembah yang ada mata airnya untuk mengambil air," katanya saat mengisi botol air minum.

Menurut Arpa, perjalanan menuju sumber mata air membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Jika dihitung pulang-pergi dari rumah, waktu yang dibutuhkan mencapai sekitar 1,5 jam. Aktivitas tersebut dilakukan hampir setiap pagi dan sore oleh sebagian besar warga Desa Gunung Putri.

"Lokasi mata air berada di bawah pohon besar dengan diameter batang sekitar 60 sentimeter. Akarnya kuat sehingga mampu menyimpan air dan debitnya masih cukup lancar," tambahnya.

Arpa menuturkan, sebagian warga memilih mengambil air untuk kebutuhan mandi dari sumur bor pribadi milik warga di wilayah selatan desa. Namun, mereka harus membayar Rp 500 pergalon. Meski berbayar, lokasi tersebut dapat dijangkau menggunakan sepeda motor sehingga lebih praktis. "Sebagian warga mengambil air di sumur bor milik warga di daerah selatan. Bayarnya Rp 500 pergalon dan bisa dijangkau menggunakan motor," ungkapnya.

Dia mengaku sangat terbantu ketika BPBD Situbondo menyalurkan bantuan air bersih melalui dropping air pada musim kemarau sebelumnya. Saat itu, warga tidak perlu lagi turun ke lembah untuk mengambil air. Namun hingga kini, bantuan serupa belum kembali disalurkan. "Untuk sekarang masih belum ada pengiriman lagi. Tidak tahu kapan akan dikirim," ujarnya.

Arpa menjelaskan, kesulitan memperoleh air bersih memang menjadi persoalan rutin warga setiap musim kemarau. Saat musim hujan, warga biasanya menampung air hujan di dalam tandon untuk persediaan. Namun, karena hujan sudah tidak turun sejak sekitar satu bulan terakhir, cadangan air mulai menipis. "Hujan biasanya hanya sampai bulan Mei. Mulai Juni sampai Desember kami harus mengambil air bersih ke lokasi tersebut," ucapnya.

Warga lainnya, Salman, 30, mengatakan setiap rumah telah mendapatkan tandon berkapasitas besar dari pemerintah daerah untuk menampung air hujan. Selain itu, tandon tersebut juga digunakan untuk menyimpan air bantuan ketika ada dropping air bersih. "Itu digunakan untuk menampung air hujan. Kalau ada dropping air dari pemerintah juga disimpan di sana untuk digunakan saat musim kemarau seperti sekarang," katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, mengatakan pihaknya memang belum menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah rawan kekeringan. Sebab, kondisi saat ini dinilai belum memasuki puncak musim kemarau. "Kami akan mengecek ke lokasi dan segera menindaklanjuti kondisi tersebut," katanya.

Timbul juga mengimbau masyarakat yang terdampak kekeringan agar tetap tenang dan menggunakan air secara bijak. Menurutnya, BPBD telah menyiapkan langkah penanganan, termasuk distribusi air bersih berdasarkan data daerah terdampak pada tahun-tahun sebelumnya. "Masyarakat diharapkan tetap tenang dan bijak dalam menggunakan air, baik untuk kebutuhan konsumsi, pertanian, maupun keperluan lainnya," jelasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#bpd situbondo #kekeringan #air bersih