Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Embung Jadi Solusi Kekeringan di Situbondo, Yoyok Mulyadi Usul Bangun 3-4 Tampungan Air Raksasa

Moh Humaidi Hidayatullah • Selasa, 30 Juni 2026 | 20:50 WIB
Ir. H. Yoyok Mulyadi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur. Ahmad Rifa
Ir. H. Yoyok Mulyadi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur. Ahmad Rifa'ie/JPRS

RADARSITUBONDO.ID – Pembangunan tampungan air atau embung berkapasitas besar dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan dan menurunnya debit air di Kabupaten Situbondo. Pasalnya, hampir setiap tahun sejumlah wilayah mengalami krisis air yang tidak hanya berdampak pada kebutuhan masyarakat, tetapi juga mengganggu produktivitas sektor pertanian.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, H. Yoyok Mulyadi mengatakan, Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah penyuplai hasil pertanian terbesar di Jawa Timur. Mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan. Sehingga, ketersediaan air menjadi kebutuhan yang sangat vital, terutama saat musim kemarau.

Menurutnya, saat musim hujan Situbondo memiliki potensi air yang melimpah. Namun, karena belum tersedia tampungan air yang memadai, sebagian besar air tersebut terbuang begitu saja dan tidak dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau tiba.

 "Situbondo saat musim hujan airnya melimpah, tetapi ketika musim kemarau justru mengalami kekurangan air. Karena itu, sudah saatnya dibangun tempat penampungan untuk menyimpan air hujan agar dapat dimanfaatkan saat musim kemarau," kata Yoyok.

Dia menjelaskan, pembangunan embung sangat strategis, terutama bagi wilayah yang pasokan airnya bergantung pada aliran sungai dari Sampeyan Baru maupun dari Bondowoso. Ketika debit sungai menurun, sejumlah daerah mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan pertanian. "Sempat saya usulkan pembangunan embung di Kalibagor, tetapi sampai sekarang belum terealisasi," imbuhnya.

Yoyok menilai, kondisi wilayah Situbondo yang belum terlalu padat masih memungkinkan dibangun tiga hingga empat embung berkapasitas besar. Keberadaan tampungan air tersebut tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat yang sering mengalami kekurangan air, seperti di Kecamatan Banyuputih, Arjasa, dan Jatibanteng, tetapi juga dapat dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan saat musim kemarau. "Memang sebagian lokasi yang potensial masih berada di kawasan Perhutani sehingga prosesnya kemungkinan lebih rumit," ujarnya.

Yoyok mencontohkan kondisi yang dialami petani di Kecamatan Banyuputih. Saat musim kemarau, mereka harus bergantian mendapatkan aliran air karena debit sungai dari Bondowoso ikut berkurang. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal panen apabila pasokan air tidak mencukupi. "Ada bibit padi yang tahan terhadap kekeringan, tetapi benihnya masih sulit diperoleh. Selain itu, masa tanam hingga panennya juga cukup lama, sekitar enam bulan," jelasnya.

Menurut Yoyok, penggunaan sumur bor memang bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun, biaya pembuatannya cukup besar sehingga menambah beban petani. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh saat panen menjadi sangat tipis, bahkan tidak sedikit yang hanya balik modal. "Karena itu pemerintah harus hadir dan melihat langsung kebutuhan petani. Dukungan yang diberikan harus benar-benar terjangkau agar biaya operasional tidak sama besar dengan hasil yang diperoleh. Kalau pendapatan hanya impas dengan biaya produksi, tentu itu tidak baik bagi petani," pungkasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#dprd jawa timur #Yoyok Mulyadi