Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Sampah Dapur Warga Juglangan Disulap Jadi Pupuk, Petani Hemat 30 Persen

Moh Humaidi Hidayatullah • Jumat, 10 Juli 2026 | 20:10 WIB
PENGRAJIN DESA: Ibu rumah tangga sibuk memasukkan sampah dapur ke dalam galon di Desa Juglangan, Kecamatan Panji, Jumat (10/7). (HUMAIDI/JPRS)
PENGRAJIN DESA: Ibu rumah tangga sibuk memasukkan sampah dapur ke dalam galon di Desa Juglangan, Kecamatan Panji, Jumat (10/7). (HUMAIDI/JPRS)

 

RADARSITUBONDO.ID – Inovasi pengolahan sampah organik di Desa Juglangan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat menjadi pupuk organik cair bernilai ekonomi. Program yang digerakkan Bank Sampah Induk Situbondo ini tidak hanya mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga membantu petani menghemat biaya pemupukan hingga 30 persen.

Sampah dapur jadi pupuk organik cair

Setiap bulan, warga Juglangan berhasil mengumpulkan lebih dari sembilan ton limbah organik rumah tangga. Sampah sisa makanan tersebut kemudian difermentasi selama enam bulan hingga menjadi pupuk organik cair dan kompos.

Purwanto, penggerak inovasi pupuk organik Bank Sampah Induk Situbondo, menjelaskan bahwa proses pengolahan sampah berlangsung hampir tanpa henti karena partisipasi warga yang terus meningkat.

“Kita mengumpulkan dari warga sembilan ton, itu sudah diproduksi. Yang pupuk olahan cair dan kompos, jadi menghasilkan pupuk olahan cair 2 ribu galon dan kompos empat ton,” ujar Purwanto, Jumat (10/7).

Menurut Purwanto, setiap kelompok di tingkat desa mampu menghasilkan hingga 30 paket pupuk. Dalam satu paket, sebanyak tiga kilogram limbah organik dapat diolah menjadi sepuluh liter pupuk cair.

Harga pupuk hanya Rp 10 ribu per galon

Pupuk organik cair hasil olahan warga Juglangan dijual kepada petani dan pengepul dengan harga Rp 10 ribu per galon. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan pupuk kimia, sehingga menjadi alternatif yang menarik bagi petani.

“Harga jual ke petani dalam satu galon Rp 10 ribu. Harga itu jauh lebih murah dibanding pupuk kimia. Cara pakainya pun praktis. Cukup dua liter pupuk dicampur air untuk menyiram lahan seluas satu hektare,” ucap Purwanto.

Selain harganya terjangkau, pupuk organik cair ini juga mudah digunakan. Petani hanya perlu mencampurkan dua liter pupuk dengan air untuk menyiram lahan seluas satu hektare.

Petani bawang akui hasil panen meningkat

Abdul Manan, salah satu petani bawang di Situbondo, mengaku telah merasakan manfaat pupuk organik cair dari limbah dapur. Ia sudah dua kali musim tanam menggunakan pupuk tersebut dan hasilnya dinilai lebih baik dibandingkan penggunaan pupuk kimia.

“Kalau pakai pupuk organik lebih cepat. Sudah dua kali penanaman ini pakai limbah dapur,” cetus Abdul Manan.

Abdul Manan menyebut penggunaan pupuk organik cair mampu menghemat biaya pemupukan hingga 30 persen. Selain itu, hasil panen bawangnya juga meningkat sekitar 30 persen.

“Bagi saya, inovasi ini jadi solusi ganda. Di satu sisi menekan biaya produksi, di sisi lain kualitas tanah jadi lebih subur karena tidak bergantung terus pada pupuk kimia,” pungkas Abdul Manan.

Solusi ganda: kurangi sampah dan tingkatkan ekonomi

Program pengolahan sampah organik di Juglangan menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa. Limbah rumah tangga yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini diolah menjadi produk bernilai jual dan bermanfaat bagi sektor pertanian.

Dengan produksi mencapai 2.000 galon pupuk organik cair dan empat ton kompos, inovasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang baik dapat memberikan dampak langsung terhadap lingkungan, ekonomi warga, dan produktivitas pertanian. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#sampah dapur #Desa Juglangan #hemat pupuk #bank sampah #pupuk organik