RADARSITUBONDO.ID – Antusiasme masyarakat menyekolahkan anak di SDIT Nurul Anshar terus meningkat. Memasuki tahun ajaran baru, sekolah ini menyambut puluhan murid baru pada Senin (13/7) dengan rangkaian kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, sekaligus memperkuat pendidikan karakter sebagai bekal utama sebelum proses belajar mengajar dimulai. Di saat yang sama, SDIT Nurul Anshar juga tengah mempersiapkan diri meraih predikat Sekolah Ramah Anak.
Penyambutan murid baru dirancang agar siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru sekaligus mengenal budaya sekolah sejak hari pertama. Orang tua pun dilibatkan agar memahami berbagai program pendidikan yang akan dijalankan selama satu tahun ke depan.
Kepala SDIT Nurul Anshar, Sutipyo, S.Pd., M.Pd., mengatakan, sekolah saat ini sedang melengkapi berbagai persyaratan untuk penilaian Sekolah Ramah Anak.
Karena itu, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum penting untuk mengenalkan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
"Dalam waktu dekat SDIT Nurul Anshar akan dinilai sebagai Sekolah Ramah Anak. Saat ini kami masih menyiapkan sejumlah persyaratan yang dibutuhkan," ujarnya.
Dalam kegiatan penyambutan tersebut, sekolah juga memperkenalkan berbagai program unggulan melalui penampilan ekstrakurikuler, mulai dari drumband, hadrah, pencak silat, hingga program Tahfiz Alquran yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama sekolah.
Menurut Sutipyo, pembentukan karakter tetap menjadi prioritas dibandingkan capaian akademik semata.
Sebab, karakter yang baik akan menjadi fondasi anak dalam menghormati orang tua, guru, maupun sesama.
"Karakter anak sangat penting agar mereka mampu menghormati orang tua, guru, dan sesama. Kami juga telah melakukan sosialisasi kepada orang tua mengenai kegiatan pembelajaran selama lima hari pertama," jelasnya.
Terapkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Selama lima hari pertama sekolah, materi pembelajaran mengacu pada Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7 KAIH).
Program tersebut membiasakan siswa untuk bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, peduli terhadap lingkungan sosial, serta tidur lebih awal.
Selain itu, terdapat kegiatan Pagi Ceria yang dilaksanakan bekerja sama dengan Polres Situbondo dan Puskesmas sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan kesehatan peserta didik.
"Selain itu, ada juga materi Pagi Ceria yang bekerja sama dengan Polres dan Puskesmas sebagai bagian dari kegiatan tersebut," katanya.
Siapkan Literasi AI dan Program Inovatif
Tak hanya berfokus pada pendidikan karakter dan Tahfiz Alquran, SDIT Nurul Anshar juga mulai menyiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.
Menurut Sutipyo, guru dan siswa harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan akhlak.
Untuk mendukung hal tersebut, sekolah telah mengajukan sejumlah program inovatif kepada Dinas Pendidikan melalui KSP, di antaranya EMALIMA (Elektronik Mahir Literasi Matematika), KACAB ENING (Kajian Membaca Kitab Kuning), dan SIMACAN.
Peminat Tembus 190 Calon Murid
Minat masyarakat terhadap SDIT Nurul Anshar terus menunjukkan tren positif. Tahun ajaran ini, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 190 calon siswa.
Namun, sekolah belum dapat menerima seluruh pendaftar karena harus menyesuaikan kuota yang telah ditetapkan dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
"Setiap tahun SDIT Nurul Anshar selalu diminati masyarakat. Salah satu daya tariknya adalah adanya kelas Tahfiz selain kelas reguler," ungkap Sutipyo.
Melihat tingginya animo masyarakat, pihak sekolah berharap ke depan dapat mendirikan SDIT Nurul Anshar II agar lebih banyak anak memperoleh kesempatan belajar di lembaga tersebut.
Di akhir penyampaiannya, Sutipyo menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan Alquran, tetapi juga dari implementasi nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
"Saya sering menyampaikan bahwa hafalan Alquran bukanlah sebuah kebanggaan semata. Yang paling penting adalah bagaimana hafalan itu tercermin dalam tindakan, karakter, dan akhlak anak-anak," pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono