RADARSITUBONDO.ID – Di tengah derasnya arus digital yang kian memengaruhi gaya hidup generasi muda, Dewan Kesenian Situbondo (DKS) memilih turun langsung ke sekolah. Melalui kunjungan ke SMAN 2 Situbondo, Kamis (23/7), DKS mengajak pelajar Generasi Z mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari identitas daerah.
Kegiatan edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya DKS membangun kesadaran sejak usia remaja bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi warisan budaya yang harus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Sekretaris Dewan Kesenian Situbondo, Jiefri Gunawan, M.Pd., menegaskan bahwa kesenian merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat Situbondo yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Kesenian itu bukan hanya sekadar hobi atau kesenangan sesaat, tetapi bagaimana kita menyadari bahwa seni adalah bagian dari kehidupan kita," ujarnya.
Menurut Jiefri, kunjungan ke SMAN 2 Situbondo tidak hanya bertujuan memperkenalkan kekayaan seni dan budaya daerah, tetapi juga membuka wawasan pelajar bahwa dunia seni memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi profesi yang menjanjikan jika ditekuni secara serius.
"Karena itu, generasi muda perlu terus diberikan pemahaman agar mampu berkarya, berkembang, dan menjadikan seni sebagai bagian dari masa depan mereka," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, DKS juga memperkenalkan berbagai kekayaan budaya khas Situbondo, mulai dari Tari Landhung, pakaian adat daerah, hingga berbagai tradisi lokal yang menjadi identitas masyarakat Situbondo.
Jiefri menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya sebatas mengenal, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan aktif generasi muda untuk menjaga, meneruskan, bahkan mengembangkan warisan budaya tersebut.
"Kami ingin menanamkan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus terus dilestarikan, diteruskan, bahkan dikembangkan oleh generasi muda," jelasnya.
Arus Digital Jadi Tantangan Pelestarian Budaya
DKS melihat perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat sebagian Generasi Z mulai menjauh dari aktivitas seni maupun budaya daerah. Kondisi itulah yang mendorong DKS mendatangi sekolah-sekolah sebagai ruang edukasi sekaligus regenerasi pelaku seni.
"Kami mencoba mendatangi langsung kalangan pelajar. Saat ini banyak anak muda yang lebih memilih berdiam diri dan kurang mengenal seni maupun budaya daerahnya. Karena itu, kami ingin membangkitkan kembali minat mereka," ungkap Jiefri.
Melalui program tersebut, DKS berharap pelajar tidak hanya memahami nilai budaya lokal, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap identitas daerah serta terdorong untuk terus berkarya di bidang seni.
"Kami berharap melalui kegiatan ini para pelajar memiliki rasa cinta terhadap seni, mengenal budaya daerahnya, dan terdorong untuk terus melestarikannya," ujarnya.
Ke depan, program serupa akan digelar di sekolah-sekolah lain di Kabupaten Situbondo. Selain memberikan edukasi, DKS juga akan membimbing para pelajar melalui berbagai motivasi, konsep, dan strategi pengembangan potensi seni agar lahir lebih banyak generasi kreatif yang mampu mengangkat budaya lokal.
"Para pelajar juga kami berikan motivasi, trik, dan konsep untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki agar terus berkarya," pungkasnya.
Sekolah Apresiasi Inisiatif DKS
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari pihak SMAN 2 Situbondo. Kepala sekolah Nikmatil Hasanah, M.Pd., menilai edukasi yang diberikan DKS sangat bermanfaat untuk memperluas wawasan siswa mengenai pentingnya menjaga seni dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan Dewan Kesenian Situbondo menjadi langkah positif untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya sebagai warisan daerah yang harus terus dijaga. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo