Pelayaran Pelabuhan Jangkar Kembali Normal Usai Tertunda Tiga Hari, Empat Rute Kembali Beroperasi

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 20:07 WIB
NORMAL KEMBALI: Seorang warga bersiap menyeberang di Dermaga Pelabuhan Jangkar, Jumat (31/7), setelah sebelumnya pelayaran sempat ditunda akibat cuaca ekstrem. (Ahmad Rifa
NORMAL KEMBALI: Seorang warga bersiap menyeberang di Dermaga Pelabuhan Jangkar, Jumat (31/7), setelah sebelumnya pelayaran sempat ditunda akibat cuaca ekstrem. (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Aktivitas pelayaran di Pelabuhan Jangkar, Situbondo, menuju sejumlah kepulauan di Kabupaten Sumenep, Madura, kembali berjalan normal setelah sempat tertunda selama tiga hari akibat cuaca ekstrem. Seluruh layanan penyeberangan kini kembali beroperasi, meski pemberangkatan kapal tetap bergantung pada rekomendasi keselamatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penundaan pelayaran sebelumnya diberlakukan pada 23 hingga 25 Juli 2026 sebagai langkah antisipasi untuk menghindari risiko kecelakaan laut akibat gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda perairan sekitar Selat Madura.

Koordinator Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Lintasan Pelabuhan Jangkar, Slamet Santoso, mengatakan kondisi cuaca saat ini sudah jauh lebih kondusif sehingga aktivitas penyeberangan kembali dibuka.

"Setelah tiga hari ditunda, alhamdulillah penyeberangan kembali kondusif. Jika nanti kembali terjadi cuaca ekstrem, tentu akan ada imbauan atau pengumuman dari BMKG," ujarnya, Jumat (31/7).

Menurut Slamet, seluruh rute reguler dari Pelabuhan Jangkar kini telah kembali melayani penumpang dan distribusi logistik seperti biasa.

Empat lintasan yang telah beroperasi normal meliputi Jangkar–Raas, Jangkar–Sapudi, Jangkar–Kangean, serta Jangkar–Lembar, Lombok. Khusus rute menuju Lombok, aktivitas didominasi kendaraan angkutan barang atau truk logistik.

"Sudah normal semua, baik rute Jangkar–Raas, Jangkar–Sapudi, Jangkar–Kangean, maupun Jangkar–Lembar, Lombok. Untuk rute ke Lombok didominasi kendaraan truk," jelasnya.

Meski pelayaran kembali dibuka, Slamet menegaskan bahwa penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tetap mengacu pada prakiraan cuaca dari BMKG. Kebijakan tersebut dilakukan agar keselamatan penumpang, awak kapal, maupun muatan tetap menjadi prioritas utama.

Ia berharap kondisi cuaca terus membaik sehingga aktivitas transportasi laut tidak lagi mengalami gangguan.

Menurutnya, wilayah perairan sekitar Situbondo masih berada dalam periode musim angin kencang dengan potensi gelombang tinggi yang datang dari arah barat daya. Apabila BMKG kembali mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem, penundaan pelayaran dapat kembali diberlakukan.

"Mudah-mudahan ke depan tidak ada kendala lagi sehingga penyeberangan tetap berjalan lancar," imbuhnya.

Sementara itu, Kasatpolairud Polres Situbondo AKP Gede Sukarmadiyasa menjelaskan bahwa Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) selalu melakukan kajian terhadap informasi cuaca dari BMKG sebelum menerbitkan SPB.

Apabila kondisi cuaca dinyatakan aman, izin berlayar akan diterbitkan. Sebaliknya, jika prakiraan menunjukkan kondisi berbahaya, kapal tidak diizinkan berangkat demi menghindari risiko kecelakaan di laut.

"Semuanya sudah dikaji. Jika memang cuaca ekstrem, tentunya SPB tidak akan dikeluarkan dan pemberangkatan akan ditunda," tegasnya.

AKP Gede menambahkan, penghentian sementara pelayaran beberapa hari lalu dipicu kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di kawasan Selat Madura, sehingga keselamatan menjadi pertimbangan utama.

Karena itu, ia mengimbau seluruh nakhoda dan pelaut agar selalu memperbarui informasi cuaca sebelum berlayar serta tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi laut dinilai membahayakan.

Selain itu, seluruh perlengkapan keselamatan seperti pelampung, alat komunikasi, dan perangkat pendukung pelayaran harus dipastikan berfungsi dengan baik sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.

"Pastikan seluruh alat keselamatan dan alat komunikasi dalam kondisi lengkap dan berfungsi. Dikhawatirkan sewaktu-waktu terjadi gelombang tinggi saat berada di tengah laut," pungkasnya.

Dengan kembali normalnya aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Jangkar, mobilitas masyarakat menuju kepulauan di Kabupaten Sumenep maupun distribusi logistik ke Pulau Lombok diharapkan kembali lancar. Meski demikian, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca tetap menjadi kunci untuk menjaga keselamatan pelayaran di jalur laut utara Jawa dan Madura. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
KSOP Jangkar penyeberangan bmkg Pelabuhan Jangkar cuaca ekstrem