Cuaca Ekstrem Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Situbondo, Harga Ikan Melonjak hingga Dua Kali Lipat

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 20:28 WIB
TIDAK MELAUT: Sejumlah perahu milik nelayan terparkir di tepi pantai akibat tidak bisa melaut karena cuaca extrem, Pelabuhan Kalbut, kecamatan Mangaran Situbondo, minggu (2/8). (Ahmad Rifa’ie/JPRS)
TIDAK MELAUT: Sejumlah perahu milik nelayan terparkir di tepi pantai akibat tidak bisa melaut karena cuaca extrem, Pelabuhan Kalbut, kecamatan Mangaran Situbondo, minggu (2/8). (Ahmad Rifa’ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Situbondo dalam sepekan terakhir mulai berdampak pada pasokan hasil laut. Angin kencang dan gelombang tinggi memaksa banyak nelayan menghentikan aktivitas melaut selama tiga hingga enam hari. Akibatnya, stok ikan di pasaran menipis dan harga berbagai jenis ikan laut melonjak hingga dua kali lipat.

Kondisi tersebut dirasakan nelayan di sejumlah kawasan pesisir, termasuk Kalbut. Demi menghindari risiko kecelakaan di laut, mereka memilih menambatkan perahu meski harus kehilangan penghasilan harian di tengah tingginya harga ikan.

"Kurang lebih sudah enam hari saya tidak melaut karena cuacanya sangat buruk. Padahal, harga ikan sekarang sedang bagus, laris terjual, dan harganya lumayan mahal," ujar Rasidi, nelayan di pesisir Kalbut, Minggu (2/8).

Menurut Rasidi, keselamatan menjadi alasan utama para nelayan menunda aktivitas melaut. Kondisi gelombang tinggi dan angin kencang dinilai terlalu berbahaya untuk memaksakan mencari ikan di laut.

"Tidak ada pilihan lain selain menambatkan perahu dulu. Semua demi keselamatan," katanya.

Cuaca Buruk, Melaut Belum Tentu Dapat Ikan

Selain membahayakan keselamatan, cuaca ekstrem juga membuat hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya dan risiko yang harus ditanggung nelayan. Dalam kondisi laut bergelombang, ikan cenderung sulit ditemukan sehingga peluang memperoleh hasil tangkapan jauh lebih kecil.

"Kalau memaksakan diri melaut tetapi tidak mendapatkan hasil, malah rugi. Lebih baik tidak berangkat," jelas Rasidi.

Ia mengaku situasi serupa hampir selalu terjadi saat musim angin tiba. Karena itu, dirinya memilih menunggu hingga kondisi laut kembali normal sebelum kembali melaut.

"Meski banyak pedagang yang mencari ikan, keselamatan tetap yang utama. Perkiraan saya mungkin seminggu ke depan masih belum bisa melaut. Kalau cuaca sudah membaik, saya akan kembali bekerja seperti biasa," ujarnya.

Selama tidak melaut, Rasidi mengaku tidak memiliki pemasukan. Namun, menurutnya, kehilangan pendapatan masih lebih baik dibanding mempertaruhkan keselamatan di tengah cuaca yang tidak bersahabat.

"Ada yang tetap memaksakan melaut, tetapi pernah terkena badai dan hasil tangkapannya juga sedikit," ungkapnya.

Pasokan Menurun, Harga Ikan Melambung

Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan para pedagang ikan. Berkurangnya hasil tangkapan membuat pasokan ikan ke pasar semakin terbatas sehingga harga jual ikut merangkak naik.

Pedagang ikan, Cak Aan, mengatakan kenaikan terjadi hampir pada seluruh jenis ikan laut.

"Harga ikan tongkol yang biasanya sekitar Rp25 ribu per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp50 ribu per kilogram. Selain itu, harga ikan kawan juga naik dari sekitar Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram," katanya.

Menurutnya, sebagian besar ikan laut yang sebelumnya dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram kini dipasarkan dengan harga berkisar Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram akibat minimnya pasokan dari nelayan.

"Memang agak sulit mendapatkan ikan. Kalaupun ada, harganya cukup mahal. Namun, sebagai pedagang kami tetap harus menjalani kondisi seperti ini," pungkasnya.

Minimnya aktivitas melaut diperkirakan masih akan berlangsung selama kondisi cuaca di perairan Situbondo belum membaik. Jika angin kencang dan gelombang tinggi terus terjadi, pasokan ikan diperkirakan tetap terbatas sehingga harga di tingkat konsumen berpotensi bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
harga ikan gelombang tinggi ikan tongkol nelayan situbondo cuaca ekstrem