RADARSITUBONDO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Situbondo. Lebih dari empat hektare hutan jati di Desa Gunung Malang, Kecamatan Suboh, hangus dilalap api pada Minggu (2/8) malam. Kobaran api yang membesar akibat angin kencang dan tumpukan daun jati kering bahkan nyaris merambat ke Jalan Nasional sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalur Pantura.
Peristiwa tersebut memaksa petugas Pemadam Kebakaran (Damkar), personel TNI, dan Perhutani bergerak cepat melakukan pemadaman agar kobaran api tidak meluas ke kawasan lain maupun badan jalan.
Kasubag Humas Damkar Situbondo, Hidayat, mengatakan lokasi kebakaran berada di tepi Jalan Nasional sehingga menjadi prioritas penanganan. Selain menghanguskan vegetasi hutan jati, api juga berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan apabila tidak segera dikendalikan.
"Kebakaran terjadi di dekat jalan, sehingga kami melakukan upaya pencegahan agar api tidak sampai merambat ke jalan nasional," ujarnya, Senin (3/8).
Menurut Hidayat, sebelum armada Damkar tiba, warga bersama petugas gabungan terlebih dahulu melakukan pemadaman secara manual menggunakan air dan metode gepyok, yakni memukul kobaran api menggunakan ranting atau kayu untuk memutus penyebaran api.
"Proses pemadaman dilakukan secara manual dengan metode gepyok dan dibantu personel TNI serta petugas Perhutani," katanya.
Upaya tersebut berhasil memperlambat laju kobaran api hingga akhirnya petugas mampu mengendalikan kebakaran. Proses pemadaman berlangsung sekitar satu jam sebelum api benar-benar dinyatakan padam.
Hidayat menjelaskan, musim kemarau yang sedang berlangsung menjadi faktor utama meningkatnya risiko kebakaran hutan di Situbondo. Daun-daun jati yang berguguran dan mengering menjadi bahan bakar alami yang membuat api cepat membesar ketika muncul sumber panas.
Selain faktor cuaca, aktivitas manusia juga diduga menjadi salah satu pemicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok yang masih menyala atau membakar sampah di sekitar kawasan hutan.
"Proses pemadaman berlangsung sekitar satu jam hingga api benar-benar padam," tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan kebakaran kali ini relatif lebih cepat karena titik api berada di pinggir jalan sehingga armada pemadam dapat menjangkau lokasi dengan mudah. Kondisi akan jauh lebih sulit apabila kebakaran terjadi di bagian dalam kawasan hutan.
"Beruntung lokasi kebakaran berada di pinggir jalan sehingga proses pemadaman tidak membutuhkan waktu terlalu lama," jelasnya.
Damkar Situbondo mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah di sekitar kawasan hutan maupun membuang puntung rokok sembarangan karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok yang masih menyala dan menghindari segala tindakan yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan," pungkas Hidayat.
Musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan membuat kawasan hutan jati, lahan ilalang, dan vegetasi kering di Situbondo berada dalam kondisi rawan terbakar. Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya karhutla yang dapat mengancam lingkungan maupun keselamatan pengguna jalan. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo