RADARSITUBONDO.ID – Pendapa Pate Alos di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat pembelajaran sejarah dan multikulturalisme di Jawa Timur. Bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Besuki itu kini tak hanya menarik perhatian akademisi dalam negeri, tetapi juga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi internasional yang datang untuk mempelajari sejarah, keberagaman budaya, hingga praktik kehidupan masyarakat multikultural.
Kunjungan akademik tersebut menjadi bukti bahwa Besuki memiliki nilai historis yang melampaui batas administratif Kabupaten Situbondo. Jauh sebelum Situbondo terbentuk sebagai kabupaten, Besuki telah dikenal sebagai kawasan strategis di pesisir utara Pulau Jawa sekaligus pusat pemerintahan, perdagangan, dan pelabuhan pada masa kolonial Hindia Belanda.
Pegiat Cagar Budaya, Halil Budiarto, menjelaskan Besuki sejak lama berkembang sebagai kota multikultural karena menjadi titik pertemuan berbagai etnis, agama, dan budaya.
"Besuki dikenal sebagai kota multikultural karena sejak lama menempati posisi strategis di pesisir utara Pulau Jawa. Pada masa kolonial Hindia Belanda, Besuki berkembang sebagai kota pelabuhan, pusat perdagangan regional, sekaligus pusat pemerintahan Karesidenan Besuki," ujarnya.
Menurut Halil, posisi strategis tersebut mendorong tingginya mobilitas masyarakat dari berbagai daerah. Mereka datang sebagai pedagang, pekerja, maupun menetap sehingga membentuk kehidupan sosial yang beragam dan harmonis.
"Posisi tersebut mendorong tingginya mobilitas penduduk dari berbagai daerah dan latar belakang etnis. Mereka datang untuk berdagang, bekerja, maupun menetap sehingga membentuk kehidupan masyarakat yang beragam dan hidup berdampingan dalam harmoni," katanya saat mendampingi akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang mempelajari sejarah Besuki.
Keberagaman itu, lanjut Halil, masih dapat ditelusuri melalui pola permukiman yang terbentuk sejak ratusan tahun lalu. Kawasan Pecinan berkembang sebagai pusat permukiman masyarakat keturunan Tionghoa yang berperan besar dalam aktivitas perdagangan.
Sementara kawasan Kauman sejak lama menjadi tempat bermukim masyarakat keturunan Arab sekaligus berkembang sebagai pusat penyebaran dan kegiatan keagamaan Islam. Adapun masyarakat lokal yang didominasi suku Madura dan Jawa tersebar di kawasan perkotaan hingga pedesaan, mulai wilayah pesisir sampai pegunungan.
"Pola permukiman tersebut menunjukkan bagaimana berbagai kelompok etnis hidup berdampingan dan saling berkontribusi membentuk identitas multikultural Besuki," jelasnya.
Halil menilai Besuki merupakan contoh nyata masyarakat multikultural yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama.
"Harmoni tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan berkeadaban," tegasnya.
Belum lama ini, Pendapa Pate Alos menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi peserta kursus Access to Justice yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Jember bekerja sama dengan The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2). Selain mengunjungi Pendapa Pate Alos, rombongan juga mempelajari sejarah keberagaman di Klenteng Poo Tong Biaw Besuki.
Program tersebut diikuti mahasiswa program magister dan doktor dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia maupun luar negeri. Di antaranya Universitas Jember, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, Universitas Surabaya, Universitas Islam Indonesia, hingga peserta dari San Diego State University (Amerika Serikat), The University of Sydney (Australia), National University (Filipina), Mapua University (Filipina), Nanzan University (Jepang), Indian Institute of Technology Kharagpur dan Ravenshaw University (India), Khazanah Research Institute (Malaysia), serta perwakilan Supreme Court of the Philippines.
Melalui kunjungan tersebut, para peserta memperoleh gambaran langsung mengenai praktik kehidupan masyarakat multikultural di Indonesia sekaligus memahami bagaimana sejarah panjang Besuki membentuk nilai toleransi, kerukunan, dan akses terhadap keadilan yang masih terjaga hingga kini.
Keberadaan Pendapa Pate Alos pun tidak lagi sekadar menjadi bangunan cagar budaya, tetapi telah berkembang sebagai ruang belajar sejarah yang mempertemukan akademisi lintas negara untuk mengkaji warisan peradaban, keberagaman, dan identitas multikultural yang telah mengakar kuat di Besuki selama berabad-abad. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo