RadarSitubondo.id – Harapan petani tembakau Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, untuk menikmati hasil panen mulai dihantui kecemasan. Serangan hama tikus yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir membuat banyak tanaman rusak, bahkan sebagian mati sebelum memasuki masa panen.
Petani khawatir serangan tersebut akan menurunkan produksi tembakau tahun ini. Sebab, tikus tidak hanya merusak batang tanaman, tetapi juga menyerang bagian akar yang membuat tanaman kehilangan daya hidup.
Hampir seluruh petani di Desa Selomukti diketahui menggantungkan penghasilan dari budidaya tembakau. Namun, musim tanam kali ini justru diwarnai ancaman kerugian akibat ledakan populasi hama tikus.
Ahmad Jayelani, salah seorang petani tembakau Desa Selomukti, mengatakan serangan tikus tahun ini tergolong berbeda dibandingkan musim sebelumnya. Menurut dia, jumlah tikus yang menyerang lahan pertanian jauh lebih banyak dari biasanya.
“Dari dulu tidak pernah ada tikus sebanyak ini. Sekarang jumlahnya sangat banyak dan merusak batang tembakau,” kata Jayelani, Jumat (7/8).
Dia mengaku heran karena tanaman tembakau yang selama ini relatif aman dari serangan hama, tiba-tiba mengalami kerusakan cukup parah. Selain memakan tanaman, tikus juga membuat banyak lubang di area lahan yang digunakan sebagai sarang.
“Saya tidak tahu tikus itu datang dari mana. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.
Bagi Jayelani dan petani lainnya, tanaman tembakau bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, serangan hama tersebut membuat petani kebingungan mencari solusi agar kerugian tidak semakin besar.
Jayelani menjelaskan, pola tanam yang dilakukan petani selama ini adalah menanam padi, kemudian tembakau, lalu kembali ke tanaman padi. Selama bertahun-tahun menjalani pola tersebut, dia belum pernah mengalami serangan tikus dengan tingkat kerusakan seperti sekarang.
“Saya setiap tahun menanam padi, setelah itu tembakau, lalu kembali lagi ke padi. Selama ini tidak pernah mengalami serangan seperti sekarang,” ujarnya.
Tanaman tembakau milik Jayelani sebenarnya diproyeksikan memasuki masa panen pada akhir Agustus mendatang. Dalam kondisi normal, lahan seluas lebih dari 900 meter persegi miliknya mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah.
Dia menyebut modal yang dikeluarkan untuk musim tanam kali ini mencapai sekitar Rp27 juta. Pada musim panen sebelumnya, pendapatan dari lahan tersebut bisa mencapai Rp80 juta hingga Rp90 juta.
“Lahan saya luasnya lebih dari 900 meter persegi. Modalnya sekitar Rp27 juta. Biasanya hasil panen bisa mencapai Rp80 juta hingga Rp90 juta. Mudah-mudahan kerugiannya tidak terlalu besar akibat hama ini,” tuturnya.
Menanggapi keluhan petani, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo Qurrotul Aini memastikan pihaknya akan melakukan tindak lanjut.
Dispertangan akan berkoordinasi dengan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk melakukan identifikasi tingkat serangan sekaligus menentukan langkah pengendalian.
“Nanti akan kami identifikasi luas serangannya, berapa luas lahannya, kemudian kami akan melakukan percepatan pengendalian,” katanya.
Pendataan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membantu petani mengatasi serangan hama tikus, sekaligus mencegah ancaman gagal panen tembakau semakin meluas. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo