Adu Pukul di Arena Ojung, 64 Peserta dari Empat Daerah Unjuk Teknik dan Sportivitas

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:00 WIB
SIAP SIAGA: Dua peserta lomba ojung berlaga di atas arena di Alun-Alun Situbondo, Minggu (9/10). (Ahmad Rifa
SIAP SIAGA: Dua peserta lomba ojung berlaga di atas arena di Alun-Alun Situbondo, Minggu (9/10). (Ahmad Rifa'ie)

RADARSITUBONDO.ID - Suara rotan beradu dengan tubuh peserta terdengar bergantian dari arena Ojung di Alun-Alun Kota Situbondo, Minggu (9/8). Sebanyak 64 peserta tampil dalam tradisi yang identik dengan adu ketangkasan tersebut. Mereka tak hanya datang dari Situbondo, tetapi juga Bondowoso, Jember, Madura, hingga Probolinggo.

Di tengah panasnya persaingan, para peserta dituntut mampu mengatur tenaga, membaca gerakan lawan, sekaligus melancarkan pukulan dengan teknik yang tepat. Pertandingan berlangsung keras, tetapi tetap berada dalam koridor aturan dan menjunjung tinggi sportivitas.

Salah seorang peserta senior asal Bondowoso, Gandi, menjadi bagian dari peserta yang mempersiapkan diri serius sebelum turun ke arena. Bagi dia, kemampuan mengayunkan rotan saja tidak cukup. Kondisi fisik juga harus dijaga agar mampu bertahan menghadapi pertandingan.

“Saya mempersiapkan teknik pukulan dan fisik. Untuk menjaga stamina, saya juga minum jamu khusus,” ujar Gandi seusai bertanding.

Di arena, dua peserta berdiri berhadapan. Secara bergantian, mereka mengayunkan rotan untuk menyerang sekaligus berusaha menghindari pukulan lawan. Sekilas, pertarungan itu tampak keras. Namun, di balik benturan tersebut terdapat aturan yang membuat pertandingan tetap berlangsung sportif.

Yang menarik, rivalitas di arena tidak berlanjut menjadi permusuhan di luar pertandingan. Setelah pertarungan berakhir, para peserta kembali berbaur. Mereka tetap bercengkerama dan menjaga hubungan baik satu sama lain.

Nilai itulah yang menjadi salah satu kekuatan tradisi Ojung. Adu ketangkasan bukan semata-mata soal menang dan kalah. Ada nilai persaudaraan dan sportivitas yang tetap dipertahankan setelah peserta meninggalkan arena.

Ojung sendiri merupakan tradisi masyarakat Madura yang telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Situbondo. Tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.

Dalam kepercayaan masyarakat, Ojung juga berkaitan dengan tradisi menolak bala sekaligus memohon turunnya hujan. Karena itu, Ojung secara turun-temurun kerap dimainkan ketika musim kemarau.

Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan dalam konteks ritual. Ojung juga dikemas menjadi bagian dari kegiatan kebudayaan dan perlombaan, seperti yang digelar di Alun-Alun Kota Situbondo kali ini.

Kompetisi tahun ini diikuti 64 peserta dengan total hadiah mencapai Rp10 juta. Pesertanya berasal dari berbagai daerah, mulai Situbondo, Bondowoso, Jember, Madura, hingga Probolinggo.

Kehadiran peserta dari luar daerah membuat arena Ojung tidak sekadar menjadi tempat adu ketangkasan. Arena tersebut juga menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai daerah sekaligus menjadi panggung untuk memperkenalkan tradisi Ojung lebih luas.

Persiapan fisik menjadi salah satu kunci bagi peserta. Mereka harus mampu mengatur stamina, bertahan dari serangan, serta melancarkan pukulan dengan teknik yang terukur. Sebab, pertandingan menuntut kekuatan sekaligus ketepatan.

Namun, nilai Ojung tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Ketika rotan sudah diturunkan dan pertarungan berakhir, hubungan antarpeserta kembali seperti semula. Mereka boleh menjadi lawan di arena, tetapi tetap bersaudara di luar arena.

Lomba Ojung di Alun-Alun Kota Situbondo tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
Ojung Situbondo Lomba Ojung Harjakasi 208 alun-alun situbondo Tradisi Ojung