Jualan Bendera dari Bandung ke Situbondo, Riyawan Ingin Cepat Pulang Bertemu Keluarga

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:02 WIB
MENUNGGU PEMBELI: Riyawan, 53, warga asal Kota Bandung, sibuk merapikan bendera, di pinggir Jalan Pantura, Kelurahan Patokan, Kacamatan/Kota Situbondo, Minggu (9/8). (HUMAIDI/JPRS)
MENUNGGU PEMBELI: Riyawan, 53, warga asal Kota Bandung, sibuk merapikan bendera, di pinggir Jalan Pantura, Kelurahan Patokan, Kacamatan/Kota Situbondo, Minggu (9/8). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID -  Di tepi jalur Pantura Situbondo, deretan bendera merah putih bergoyang diterpa angin. Lapak sederhana itu menjadi tempat Riyawan, 53, menunggu pembeli. Sudah setengah bulan dia bertahan di pinggir jalan, jauh dari rumah dan keluarga di Bandung.

Mendekati peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang bendera musiman mulai bermunculan di sejumlah ruas jalan Kabupaten Situbondo. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Bandung, demi mengejar rezeki dari momentum Agustusan.

Riyawan menjadi salah satunya. Dia mengaku tiba di Situbondo pada 23 Juli 2026. Hingga Minggu (9/8), sudah 15 hari dia menggelar lapak di pinggir Jalan Pantura.

Namun, hasil yang didapat belum sesuai harapan. Selama berjualan sekitar setengah bulan, baru sekitar 30 lembar bendera yang terjual.

“Saya datang sejak tanggal 23 Juli. Ini sudah 15 hari jualan di pinggir jalan. Sudah setengah bulan, bendera yang laku baru 30 lembar. Tapi ini kan waktunya masih panjang. Semoga lebih banyak yang beli,” kata Riyawan sembari menata dagangannya.

Bagi pedagang musiman seperti Riyawan, membawa dagangan dari Bandung ke kota-kota lain bukan perkara ringan. Bendera, umbul-umbul, dan berbagai perlengkapan kemerdekaan harus dibawa dalam jumlah banyak. Persoalannya muncul ketika barang tidak habis terjual.

Jika dagangan ludes, perjalanan pulang menjadi lebih ringan sekaligus membawa hasil penjualan. Namun, jika barang masih menumpuk, beban yang dibawa kembali ke kampung halaman juga tetap berat.

“Kalau pedagang seperti kami, datang dari Bandung bawa barang berat. Kalau laku semua pulangnya ya enak. Tapi kalau laku sedikit, pulangnya berat lagi,” ujarnya.

Riyawan bukan pedagang musiman yang baru sekali mencoba peruntungan. Setiap Agustus, dia bersama sejumlah rekannya rutin meninggalkan Bandung untuk berjualan bendera ke luar kota.

Di luar musim kemerdekaan, kehidupan Riyawan jauh dari lapak bendera. Dia sehari-hari berjualan seblak di Bandung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berdagang bendera memang tidak memberikan kepastian keuntungan. Besarnya penghasilan sangat bergantung pada jumlah barang yang terjual.

“Jaminan untung pasti ada. Kalau lakunya banyak, untungnya banyak. Kalau yang beli sedikit hasilnya sedikit,” tuturnya pelan.

Tahun ini, Riyawan merasakan perubahan yang cukup kentara. Pembeli tidak lagi selalu datang ke lapak pinggir jalan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kemudahan belanja daring membuat masyarakat memiliki pilihan lain. Bendera dan perlengkapan Agustusan kini bisa dipesan hanya melalui telepon genggam dan dikirim langsung ke rumah.

“Kami tetap jualan karena yang kami sasar adalah pengendara. Setidaknya kami bisa jadi pengingat bagi warga bahwa ada hari perayaan kemerdekaan. Sekalian cari untung menafkahi keluarga,” kata Riyawan sambil tertawa.

Di balik aktivitas menjajakan bendera, ada kerinduan yang terus dibawa Riyawan selama berada di Situbondo. Bukan hanya soal dagangan yang belum banyak terjual, melainkan juga keluarga yang berada ratusan kilometer dari tempatnya mencari rezeki.

Dia mengaku kerap teringat istri, anak, dan terutama cucu yang ditinggalkan sementara di Bandung.

Keinginan untuk segera kembali ke rumah semakin kuat ketika hari-hari berjualan terus berlalu. Namun, Riyawan tahu dirinya masih harus bertahan. Setidaknya sampai momentum Agustusan berakhir.

“Kepikiran terus sama cucu. Ingin cepat ngumpul sama keluarga. Tapi ya harus sabar. Ini untuk menyambung hidup,” pungkas Riyawan.

Di pinggir Pantura Situbondo, Riyawan akhirnya bukan sekadar menjual bendera merah putih. Dia juga sedang menukar jarak dan waktu bersama keluarga dengan harapan membawa pulang sedikit keuntungan dari perayaan kemerdekaan. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
Pantura Situbondo Pedagang bendera Bendera Agustusan Pedagang Bandung HUT Kemerdekaan