Kampung Kerapu Situbondo Kian Sepi, Fasilitas Rusak Bikin Pengunjung Takut

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:04 WIB
BUTUH PEMBARUAN: Suasana Wisata Kampung Kerapu yang tampak sepi tanpa pengunjung akibat banyaknya fasilitas yang rusak. Tempat wisata ini berada di jalur Pantura Situbondo, tepatnya Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Senin (2/8). (Ahmad Rifa
BUTUH PEMBARUAN: Suasana Wisata Kampung Kerapu yang tampak sepi tanpa pengunjung akibat banyaknya fasilitas yang rusak. Tempat wisata ini berada di jalur Pantura Situbondo, tepatnya Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Senin (2/8). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Dulu, ratusan orang datang menikmati suasana pantai di Kampung Kerapu. Kini, kawasan wisata di jalur Pantura, Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, itu justru lebih sering terlihat lengang. Fasilitas yang rusak dan lapuk membuat pengunjung khawatir, sementara perawatan destinasi dinilai belum maksimal.

Penurunan jumlah pengunjung terasa sangat drastis. Pada masa ramai, wisata Kampung Kerapu bisa didatangi sekitar 150 orang dalam sehari meski bukan akhir pekan. Kini, jumlah tersebut nyaris tidak terlihat.

“Kalau dulu hari biasa itu sekitar kurang lebih 150 pengunjung. Kalau saat ini hampir dipastikan tidak ada,” kata Adi Mukhtar, Direktur BUMDes Klatakan.

Menurut Adi, kondisi tersebut sangat disayangkan. Sebab, Kampung Kerapu dibangun sebagai salah satu destinasi wisata dengan lokasi strategis dan menawarkan panorama pantai. Destinasi tersebut berdiri sejak 2020 dengan anggaran pembangunan mencapai miliaran rupiah.

Namun, kondisi fasilitas perlahan berubah. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan setelah kawasan tersebut terdampak banjir beberapa tahun lalu. Banjir kembali menerjang pada tahun ini sehingga kerusakan di sejumlah titik semakin terlihat. Bukan hanya persoalan estetika. Kerusakan fasilitas juga menyentuh aspek keamanan pengunjung.

Adi menyebut sejumlah akses menuju bagian tengah kawasan wisata sudah mengalami kerusakan. Bagian yang lapuk bahkan hanya diperbaiki secara seadanya. Kondisi tersebut membuat pengunjung enggan menjelajah lebih jauh.

“Di sana aksesnya juga sudah banyak yang rusak. Yang lapuk banyak ditembel, apalagi bagian atapnya. Jadi, wisatawan juga tidak berani kalau mau ke tengah karena takut jatuh,” ujarnya.

Kondisi itu membuat daya tarik Kampung Kerapu ikut menurun. Wisatawan yang semula datang untuk menikmati panorama pantai kini harus berhadapan dengan fasilitas yang tidak lagi memberikan rasa nyaman.

Adi menilai, perhatian terhadap pengembangan destinasi tersebut juga ikut berubah seiring pergantian kepemimpinan di Kabupaten Situbondo. Menurut dia, sejak era kepemimpinan Bupati Karna, perhatian terhadap Kampung Kerapu dinilai berkurang, termasuk dari sisi anggaran pemeliharaan.

Dampaknya, kerusakan yang terjadi tidak segera tertangani secara menyeluruh. Fasilitas yang seharusnya menjadi penunjang wisata justru semakin lapuk dan membuat kawasan tersebut kehilangan daya tarik.

“Ya, mudah-mudahan ke depan bisa kembali banyak pengunjungnya karena anggaran untuk pembuatannya juga tidak sedikit,” tegasnya.

Bagi Adi, persoalan Kampung Kerapu tidak hanya berkaitan dengan satu destinasi wisata. Kondisi tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana sektor pariwisata bisa rentan ketika arah kebijakan berubah mengikuti pergantian kepemimpinan.

Karena itu, dia berharap keberadaan regulasi yang lebih kuat dapat menjaga kesinambungan pengembangan destinasi wisata. Apalagi, Pemkab Situbondo kini tengah menyiapkan Raperda Pariwisata.

Regulasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi payung bagi Kampung Kerapu, tetapi juga memastikan destinasi wisata lain di Situbondo tetap dirawat, dikembangkan, dan tidak kehilangan perhatian ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

“Setiap pergantian pemimpin semoga bisa diperhatikan, bukan hanya di sini, tetapi menyeluruh,” jelasnya.

Potensi Besar di Jalur Pantura

Di mata wisatawan, Kampung Kerapu sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk berkembang. Lokasinya berada tepat di jalur Pantura Situbondo dan tidak jauh dari kawasan wisata Pasir Putih.

Posisi tersebut semestinya menjadi keuntungan karena wisatawan yang melintas dapat dengan mudah mengetahui keberadaan destinasi tersebut. Namun, potensi lokasi belum cukup untuk mendatangkan pengunjung jika fasilitas dan pengelolaannya tidak mendukung.

Nurul, salah seorang warga Situbondo yang berkunjung ke Kampung Kerapu, mengaku prihatin melihat kondisi destinasi tersebut. Dia masih mengingat ketika kawasan itu ramai dan menjadi salah satu tempat yang banyak didatangi masyarakat.

“Sebenarnya sangat miris. Wisata yang memiliki keindahan seperti ini malah terbengkalai. Apalagi posisinya tepat berada di pinggir jalan sebelum Pasir Putih, yang jelas mudah untuk dikenal. Tetapi bagaimana lagi kalau tata kelolanya seperti ini, dampaknya juga seperti sekarang,” katanya.

Nurul mengaku dahulu cukup sering datang ke Kampung Kerapu. Saat itu, kondisi kawasan wisata masih bagus dan pengunjung berdatangan.

Kini, setelah lama tidak berkunjung, dia mengaku kaget melihat perubahan yang terjadi.

“Dulu saya sering ke sini ketika masih bagus dan eksis. Siapa yang tidak kenal Wisata Kampung Kerapu yang dulu ramai ini. Tetapi, semenjak lama tidak ke sini, ternyata kondisinya sudah berubah dan sepi,” tambahnya.

Kampung Kerapu kini seperti berada di persimpangan. Di satu sisi, destinasi itu memiliki lokasi strategis, panorama pantai, dan sejarah sebagai salah satu wisata yang pernah ramai. Di sisi lain, kerusakan fasilitas dan minimnya perawatan membuat wisatawan semakin menjauh.

Jika ingin kembali menghidupkan Kampung Kerapu, pekerjaan rumahnya bukan sekadar mendatangkan wisatawan. Fasilitas yang rusak, faktor keamanan, tata kelola, serta kesinambungan anggaran pemeliharaan perlu dibenahi secara bersamaan. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
Raperda Pariwisata Pantura Situbondo Wisata Pasir Putih kampung kerapu wisata situbondo