RADARSITUBONDO.ID – Kepala SMP Negeri 1 Asembagus, Retno Sulistiowati, S.H., berkomitmen membawa lembaga pendidikan yang dipimpinnya menjadi sekolah unggul dalam pembelajaran dan pelayanan. Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah mengembangkan SMPN 1 Asembagus menjadi sekolah berbasis nasional yang memiliki nilai-nilai kepesantrenan atau SMP Plus.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui konsep sekolah yang mengedepankan pelayanan terbaik bagi seluruh siswa. Kebutuhan dan potensi peserta didik menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan sekolah. Retno mengatakan, langkah pertama yang dilakukan setelah mendapat amanah sebagai kepala sekolah adalah mengokohkan niat serta membangun komunikasi dengan jajaran internal sekolah. Komunikasi dan kerja sama tim menjadi kunci untuk mengetahui berbagai persoalan sekaligus menentukan langkah pengembangan sekolah.
“Langkah pertama yang harus dilakukan ketika menjadi pemimpin di sekolah ini adalah mengumpulkan para wakil kepala sekolah (waka), mulai dari waka humas, waka kurikulum, waka sarana dan prasarana, hingga bidang lainnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi kendala dan seperti apa langkah yang harus dilakukan,” kata Retno.
Menurutnya, komunikasi dengan para waka tersebut diyakini dapat menemukan jalan terbaik dalam mengembangkan sekolah. Selain mengetahui berbagai kendala yang selama ini dihadapi, komunikasi tersebut juga menjadi sarana untuk menyerap gagasan dan harapan ke depan sesuai dengan visi dan misi sekolah. “Ini bukan sekadar berbicara tentang pre-filling, tetapi merupakan komitmen yang saya tanamkan pada diri sendiri, bagaimana mengembangkan dunia pendidikan melalui SMP Negeri 1 Asembagus,” imbuhnya.
Retno menjelaskan, hasil komunikasi dengan para waka kemudian menjadi bahan evaluasi sekaligus rekomendasi dalam menentukan langkah pengembangan sekolah. Menurutnya, menjadi bagian dari dunia pendidikan bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi membutuhkan kesungguhan dan komitmen untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi lembaga. “Sekolah itu akan bagus ketika kita mampu melayani siswa dengan memberikan pelayanan yang baik dan benar. Semua itu juga diatur dalam sistem pendidikan nasional tentang bagaimana kita melayani siswa sebenar-benarnya,” jelasnya.
Beri Ruang Siswa Sampaikan Pendapat
Retno juga menekankan pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Menurutnya, ketika terdapat pemikiran siswa yang kurang tepat, tugas guru adalah memberikan arahan, bukan mematikan pola pikir peserta didik.
Konsep sekolah yang melayani tersebut, kata dia, bukan gagasan yang dibuat secara sembarangan. Konsep tersebut dipelajarinya melalui seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Gresik yang dikenalnya ketika menempuh pendidikan. Dari komunikasi tersebut, Retno memperoleh buku pedoman yang kemudian menjadi salah satu referensi dalam menerapkan konsep sekolah yang melayani.
“Kebetulan saya kenal dengan seorang akademisi di sana dan dia memberikan saya buku pedoman. Jadi saya tidak sembarangan menawarkan konsep. Aturannya jelas, sistemnya saya pelajari terlebih dahulu, baru kemudian saya tawarkan. Masalah konsep ini berjalan atau tidak, insyaallah semuanya akan berjalan,” tuturnya.
Salah satu perhatian utama yang kini didorong Retno adalah membangun budaya sekolah yang mampu memberikan pelayanan secara baik dan benar kepada siswa. Dia menilai, sekolah yang baik tidak hanya diukur dari kondisi sarana fisik maupun prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan guru dan seluruh tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik.
juga Guru, tidak hanya memiliki tugas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik. Karena itu, kedisiplinan dalam mengajar, kelengkapan instrumen pembelajaran, serta kemampuan guru menciptakan suasana kelas yang kondusif harus terus dikontrol. “Jadi pemimpin itu harus berani capek dan lelah. Kalau capek, ya istirahat. Tetapi dalam perjuangan jangan terlalu lama, nanti bisa terlena,” katanya.
Jalin MoU dengan Sejumlah Perguruan Tinggi
Retno berharap SMPN 1 Asembagus ke depan benar-benar menjadi sekolah yang mengedepankan pelayanan. Bahkan, dia menargetkan sekolah tersebut dapat berkembang menjadi SMP Plus dengan memasukkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan di lingkungan sekolah.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, pihak sekolah tengah menjalin kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Ibrahimy, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo (Unars) dan STKIP Situbondo.
“Dengan itu, dunia akademik di SMPN 1 Asembagus diharapkan bisa menjadi lebih luas, wawasannya berkembang, serta keilmuannya semakin bertambah karena bisa mendapatkan pengembangan keilmuan dari lingkungan perguruan tinggi,” terangnya.
Dia juga menegaskan bahwa konsep sekolah yang melayani tidak boleh mematikan potensi yang dimiliki siswa. Konsep tersebut dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru dituntut tidak hanya menjadikan siswa sebagai pendengar, tetapi juga mampu menggali potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik.
Menurutnya, hal tersebut membutuhkan kecermatan dan kejelian dari seorang guru. Terlebih, siswa SMPN 1 Asembagus dinilai memiliki potensi akademik yang cukup baik. “Kalau dalam hal prestasi, sekolah seperti ini sebenarnya tidak terlalu sulit karena input-nya sudah bagus. Tinggal bagaimana kita melayani mereka dengan baik sehingga apa yang mereka miliki itu berkembang dan tidak stagnan,” jelasnya.
Evaluasi Kinerja Guru Melalui Rapor Guru
Tidak berhenti di sana, Retno juga menyiapkan sistem evaluasi terhadap kinerja guru melalui rapor guru. Evaluasi dilakukan berdasarkan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dan dicatat dalam rapor tersebut. “Jadi saya punya rapor guru. Ketika saya masuk kelas, saya akan melakukan penilaian sebelum dan sesudahnya berdasarkan rapor yang saya punya. Memang capek, tetapi ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab,” tegasnya.
Meski menjabat sebagai pimpinan, Retno mengaku tidak ingin merasa paling pintar. Karena, dunia pendidikan memiliki ilmu yang sangat luas sehingga seorang pemimpin juga harus mau belajar dari guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Dia juga membuka ruang bagi para guru untuk saling berbagi ilmu melalui komunitas belajar. Selain itu, komunikasi dengan siswa, termasuk pengurus OSIS, terus dilakukan untuk mengetahui secara langsung aspirasi dan keluhan mereka. “Awal-awal saya kumpulkan pembina ekstrakurikuler, pembina tari dan semuanya. Saya tanyakan keluhan mereka dan apa yang mereka inginkan. Selama saya mampu, kenapa tidak saya penuhi,” ungkapnya.
Menurut Retno, sekolah dengan jumlah siswa yang besar harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Pembelajaran tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga perlu ditunjang kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan perkembangan dan minat siswa.
Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti drone yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, fotografi, sekaligus mengenalkan siswa pada teknologi dan lingkungan sekitar. “Jadi anak-anak tersalurkan. Bagaimana mereka belajar public speaking dan lain-lain. Ketika mereka menginginkan sesuatu yang positif, apalagi berkaitan dengan dunia digital, tentu harus saya penuhi demi mendukung perkembangan sekolah dan siswa,” ucapnya.
Pembenahan Sarana-Prasana
Dalam bidang kesiswaan, Retno juga berencana melakukan pembenahan sarana dan prasarana. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah membangun kepercayaan serta komunikasi yang baik dengan wali murid. Dia mengaku tidak ingin terlalu sering membebani orang tua dengan berbagai pungutan.
Kebutuhan sekolah yang dapat dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kata dia, akan dioptimalkan terlebih dahulu. “Kalau kebutuhan itu sudah tercakup dalam BOS, kita tidak mau meminta-minta kepada wali murid. Saya juga malu kalau sedikit-sedikit meminta,” katanya.
Menurutnya, komunikasi dengan wali murid harus dilakukan secara terbuka dan proporsional, terutama apabila terdapat kebutuhan sekolah yang memang tidak dapat dibiayai melalui anggaran yang tersedia. Selain pengembangan pembelajaran dan sarana prasarana, pembenahan administrasi sekolah juga menjadi perhatian serius. Retno meminta jajaran tata usaha (TU) memastikan seluruh administrasi sekolah tertata dengan baik karena kelengkapan administrasi merupakan bagian penting dari profesionalitas sebuah lembaga pendidikan.
“Saya memimpin sebuah lembaga pendidikan. Saya tidak mau ketika ada orang menanyakan administrasi sekolah kemudian tidak lengkap. Bagi saya, itu tamparan. Ini lembaga pendidikan yang seharusnya memberikan contoh yang baik dan benar,” ungkapnya.
Di sisi lain, persoalan sarana dan prasarana fisik menjadi tantangan tersendiri. Kondisi sejumlah bangunan sekolah yang membutuhkan perhatian membuat pihak sekolah berupaya mencari sumber pendanaan di luar dana BOS.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengawal pengajuan program revitalisasi sekolah. Pengajuan tersebut dikawal mulai dari operator, Dinas Pendidikan hingga tingkat kementerian. Retno juga terus membangun komunikasi dengan pihak kementerian, sebagaimana yang pernah dilakukannya ketika masih memimpin SMPN 1 Jangkar. “Karena kondisi fisik sekolah ini tidak mungkin semuanya diambilkan dari dana BOS, akhirnya saya mengejar revitalisasi. Saya kawal dari operator, Dinas Pendidikan sampai kementerian,” ujarnya.
Dengan berbagai program tersebut, Retno berharap SMPN 1 Asembagus ke depan tidak hanya menjadi sekolah dengan jumlah siswa dan prestasi yang besar, tetapi juga menjadi lembaga pendidikan yang mampu memberikan pelayanan terbaik, mengembangkan potensi siswa, memperkuat kompetensi guru, serta memiliki karakter dan nilai-nilai pendidikan yang kuat. “Intinya saya ingin sekolah ini menjadi lebih baik. Tujuan saya bukan memperkaya diri, tetapi bagaimana sekolah ini bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi anak-anak,” tutupnya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo