PG Panji Hentikan Giling 16 Jam, Sistem Penangkap Debu Diperbaiki

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:02 WIB
PERBAIKAN: Sejumlah pekerja profesional sibuk memperbaiki mesin PG Panji, Minggu (16/8). (HUMAIDI/JPRS)
PERBAIKAN: Sejumlah pekerja profesional sibuk memperbaiki mesin PG Panji, Minggu (16/8). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Operasi giling Pabrik Gula (PG) Panji, Situbondo, dihentikan selama 16 jam pada akhir pekan. Penghentian dua shift itu bukan karena gangguan produksi, melainkan untuk membenahi sistem dust collector agar penangkapan abu tolato lebih optimal dan dampaknya terhadap warga sekitar bisa ditekan.

Manager Teknik PG Panji Bahtiar Yudistira mengatakan, mesin sengaja dimatikan agar seluruh bagian sistem, terutama sprayer pada wet scrubber, dapat diperiksa dengan aman. Proses pengecekan membutuhkan kondisi mesin yang benar-benar berhenti dan sudah cukup dingin.

“Kami harus matikan mesin dulu agar bisa mengecek seluruh bagian sprayer. Tujuannya supaya tangkapan abu tolato lebih sempurna dan warga sekitar lebih nyaman,” kata Bahtiar, Minggu (10/8).

Menurut dia, perbaikan dilakukan sebagai bagian dari upaya PG Panji meningkatkan kinerja alat pengendali emisi. Dust collector tersebut telah beberapa kali dimodifikasi dan kini diklaim mampu menangkap sekitar 40–50 ton abu tolato yang selama ini dikenal masyarakat Situbondo.

Modifikasi alat dilakukan berdasarkan instruksi direksi dan telah masuk dalam anggaran tahunan perusahaan.

Mesin Tua, Performa Masih Diandalkan

Menariknya, sistem produksi PG Panji masih mengandalkan sejumlah mesin peninggalan era Belanda. Meski telah berusia ratusan tahun, perangkat tersebut dinilai masih mampu memberikan performa yang kompetitif.

“PG Panji hingga saat ini tetap menggunakan alat peninggalan Belanda. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, manfaatnya masih bersaing dengan mesin modern. Bahkan lebih bagus,” ujar Bahtiar.

Dalam dua pekan terakhir, PG Panji juga melakukan konsultasi dengan pihak pembuat boiler di Belanda. Bahkan, konstruktor boiler tersebut datang langsung ke PG Panji untuk memeriksa sejumlah mesin produksi.

Bahtiar menyebut pihak dari Belanda sempat terkejut melihat kondisi dust collector yang masih digunakan PG Panji. Menurut dia, alat tersebut dinilai memiliki performa yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

“Mereka juga berencana datang lagi untuk meneliti mesin yang masih digunakan PG Panji,” katanya.

Dorong Pabrik Gula Lebih Ramah Lingkungan

Perbaikan dust collector menjadi bagian dari upaya PG Panji menjaga keseimbangan antara aktivitas produksi dan kenyamanan masyarakat di sekitar pabrik.

Bahtiar menegaskan, mewujudkan pabrik pengolahan tebu yang lebih ramah lingkungan tidak cukup hanya dengan mengganti mesin. Pengoperasian dan perawatan peralatan juga membutuhkan keahlian serta kontrol yang konsisten.

Terlebih, PG Panji masih memanfaatkan sistem tenaga uap dan boiler peninggalan Belanda. Meski demikian, peralatan tersebut masih mampu menunjang proses produksi gula.

“PG Panji masih bertahan menggunakan boiler peninggalan Belanda. Tapi hasilnya tetap bagus dan masih bersaing dengan yang sudah pakai mesin modern,” pungkasnya. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
situbondo abu tolato dust collector PG Panji pabrik gula