Radarsitubondo.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Pulau Kalimantan. Luas wilayah yang terdampak kebakaran sepanjang 2026 tercatat mencapai puluhan ribu hektare, sementara puluhan ribu titik panas terdeteksi di berbagai provinsi.
Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), sepanjang 1 Januari hingga 27 Juli 2026 terdapat sekitar 33.837 hektare areal yang terindikasi terdampak karhutla di Kalimantan.
Dalam periode yang sama, sebanyak 34.262 titik panas terpantau tersebar di lima provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Baca Juga: Enam Tahun di AS, Pangeran Harry dan Meghan Markle Dikabarkan Siap Kembali ke Inggris
Memasuki Agustus 2026, pemerintah juga mencatat luas kebakaran yang cukup besar. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026 menunjukkan tiga provinsi Kalimantan yang menjadi prioritas penanganan telah mencatat total 32.133,06 hektare lahan terbakar.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan kebakaran paling besar, yakni mencapai 28.680,47 hektare.
Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat sekitar 3.069,52 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan berada di angka 383,07 hektare.
Baca Juga: Agnez Mo Bikin Heboh di Reacher Season 4, Kerambit Indonesia Jadi Senjata Mematikan!
Besarnya luasan di Kalimantan Barat membuat provinsi tersebut menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam upaya pengendalian karhutla.
BNPB memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan dapat semakin meningkat dalam beberapa waktu mendatang.
Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan Kalimantan, diperkirakan memasuki periode puncak risiko karhutla pada Agustus hingga September 2026.
Kondisi cuaca yang lebih kering selama periode tersebut dapat membuat lahan lebih mudah terbakar. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi faktor penting untuk menghindari meluasnya titik api.
Di Kalimantan Timur, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga 11 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 218 kejadian karhutla.
Total area yang terdampak dari rangkaian kejadian tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1.287,93 hektare.
Baca Juga: Bitcoin Tiba-Tiba Meledak ke 71.000 USD, Ada Tangan AS di Balik Lonjakan Gila Ini?
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, laporan hingga 9 Agustus mencatat puluhan kejadian kebakaran. Data tersebut masih terus diperiksa melalui proses verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi dan luasan wilayah yang terdampak.
Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan terhadap hutan dan lahan. Kebakaran dalam skala besar juga dapat menghasilkan kabut asap yang menyebar ke wilayah permukiman.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan. Aktivitas sehari-hari masyarakat juga dapat ikut terganggu apabila konsentrasi asap meningkat.
Baca Juga: PLTU Paiton Ketahuan Pakai 56 Ribu Liter BBM Subsidi, Kok Bisa Dapat QR Code?
Dengan periode Agustus-September diperkirakan menjadi puncak risiko kebakaran, upaya pencegahan dan penanganan sejak awal menjadi semakin penting.
Pengawasan terhadap titik panas, respons cepat ketika kebakaran mulai terdeteksi, serta kewaspadaan masyarakat di wilayah rawan diharapkan dapat membantu mencegah kebakaran meluas dan menekan dampaknya terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat.(*)
Editor : Titin Wulandari