RADARSITUBONDO.ID – Riuh aktivitas wisata di Kampung Kerapu, Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, kini tinggal kenangan. Sepinya pengunjung membuat sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan tersebut memilih menutup warung karena tak lagi mampu mengandalkan pemasukan dari wisatawan.
Kondisi itu menjadi gambaran lesunya aktivitas wisata di Kampung Kerapu dalam beberapa tahun terakhir. Warung makan dan pedagang yang sebelumnya menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan kini banyak yang tidak lagi beroperasi.
Direktur BUMDes Klatakan Adi Mukhtar mengatakan, keberlangsungan UMKM di kawasan tersebut sangat bergantung pada geliat pariwisata. Ketika wisatawan sepi, omzet pedagang otomatis ikut tertekan.
“Kalau wisata tidak bergerak, tentu semuanya ikut tidak bergerak atau mati. Apalagi pelaku usaha warung dan pedagang lainnya. Yang membeli adalah wisatawan yang berkunjung ke Kampung Kerapu,” kata Adi.
Menurut dia, kondisi berbeda terjadi ketika Kampung Kerapu masih ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Saat itu, aktivitas ekonomi di dalam dan sekitar kawasan ikut bergerak.
Namun, penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir membuat roda ekonomi warga ikut melambat.
“Dulu saat ramai, usaha di dalam maupun di luar kawasan hidup. Pelaku UMKM juga berjalan karena pengunjung ramai, baik dari dalam maupun luar kota. Tetapi, sejak beberapa tahun terakhir wisata ini kurang diminati, usaha di sana ikut terdampak,” ujarnya.
Adi menjelaskan, BUMDes Klatakan sebenarnya terlibat dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut. Namun, kewenangan yang diberikan masih terbatas, salah satunya dalam pengelolaan tiket pengunjung.
“Kami hanya diberikan peran terbatas, terutama dalam mengelola tiket pengunjung. Aset itu milik Pemkab di bawah Disnakan,” imbuhnya.
Pengunjung: Potensi Wisata Masih Bisa Dikembangkan
Kondisi sepinya Kampung Kerapu juga dirasakan pengunjung. Mamad mengaku terkejut saat kembali berkunjung karena hampir tidak menemukan pelaku usaha yang masih membuka warung.
“Saya bingung ketika masuk ke sana kok sepi. Padahal, lokasinya cukup bagus dan masih bisa diberdayakan serta dikembangkan agar kembali menjadi daya tarik wisatawan,” ujar Mamad.
Menurut dia, menghidupkan kembali kawasan tersebut tidak hanya penting untuk sektor pariwisata, tetapi juga bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Warung, pedagang makanan dan minuman, hingga usaha kecil lainnya semestinya bisa tumbuh apabila jumlah wisatawan kembali meningkat.
Namun, kondisi di lapangan kini justru sebaliknya. Banyak warung tutup sehingga pengunjung bahkan kesulitan mencari tempat untuk membeli makanan dan minuman.
“Dulu saya sering ke sini. Ramainya minta ampun. Kalau mau membeli sesuatu juga tidak kebingungan karena masih banyak penjual yang aktif,” tambahnya.
Penghasilan Tak Menentu, Pedagang Pilih Tutup
Salah seorang pemilik warung mengaku, sepinya wisatawan membuat usaha yang dijalankannya tidak lagi memberikan penghasilan memadai. Kondisi itu membuat sejumlah pedagang memilih berhenti berjualan.
“Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau harus menerima kondisi ini,” ucapnya.
Dia mengatakan, dahulu berjualan pada hari biasa masih cukup menjanjikan karena wisatawan rutin datang. Kini, kondisi tersebut berubah drastis.
Pada hari biasa, terutama di luar akhir pekan, dirinya bahkan terkadang tidak memperoleh pemasukan sama sekali. Hanya pada Minggu atau saat ada aktivitas warga, warungnya masih berpeluang mendapatkan pembeli.
“Kalau hari Minggu masih bisa dapat karena ada satu atau dua orang yang datang. Orang memancing atau tetangga sekitar masih ada, tetapi wisatawan seperti dulu sudah tidak ada,” imbuhnya.
Sepinya Kampung Kerapu akhirnya tidak hanya menjadi persoalan destinasi wisata. Lesunya kunjungan ikut menyeret ekonomi warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo