RADARSITUBONDO.ID — Bukan sekadar tembakau, Bheko Tambheng dari Desa Lubawang, Kecamatan Besuki, Situbondo, punya daya tarik tersendiri di kalangan pencinta tembakau. Produksinya terbatas, rasanya khas, dan harganya bisa menembus Rp 1 juta per kilogram.
Tembakau jenis Tambheng atau Bheko Tambheng dikenal memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda dibandingkan tembakau pada umumnya. Kondisi itu membuat komoditas yang tumbuh secara turun-temurun tersebut diburu pembeli dari berbagai kalangan.
Sukayyin, 51, petani tembakau asal Desa Besuki, mengatakan harga Bheko Tambheng bervariasi, mulai Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu per kilogram. Ketika stok mulai menipis, harganya bahkan bisa mencapai Rp 1 juta.
“Per kilogram mulai dari Rp 500 ribu, Rp 750 ribu, bahkan kalau sudah tersisa sedikit, ada yang mengambil Rp 1 juta,” katanya.
Menariknya, Bheko Tambheng umumnya tidak dipasarkan melalui pasar umum. Para pencinta tembakau justru datang langsung ke rumah pemilik untuk mendapatkan stok. Saat jumlahnya tinggal sedikit, tembakau tersebut bisa langsung diborong.
Produksi yang terbatas menjadi salah satu alasan Bheko Tambheng sulit diperoleh. Dalam kondisi tanaman bagus, hasil panennya disebut hanya sekitar 70 kilogram sekali panen.
Sulit Ditiru, Dipengaruhi Tanah dan Tradisi
Secara umum, perawatan Bheko Tambheng tidak jauh berbeda dengan tembakau lainnya, mulai dari penanaman hingga panen. Namun, untuk mendapatkan karakter rasa dan aroma khasnya, diperlukan pengetahuan serta teknik yang diwariskan antargenerasi.
Sejumlah petani bahkan telah mencoba meniru bibit dan proses budidayanya. Hasilnya tetap tidak sama.
Sukayyin mengaku pernah menanam sekitar 2.000 batang Bheko Tambheng. Namun, cita rasa yang dihasilkan berbeda dengan tembakau dari Desa Lubawang.
Menurut dia, kondisi tanah dan alam menjadi faktor penting. Bahkan, lokasi tumbuh diyakini turut menentukan karakter tembakau tersebut.
“Banyak yang meniru bibit, proses tanam hingga proses panen, tetapi rasanya tetap berbeda dengan yang dihasilkan,” ujarnya.
Karena itu, Desa Lubawang seolah menjadi identitas yang melekat dengan Bheko Tambheng. Tembakau tersebut telah lama ditanam dan diwariskan oleh keluarga petani setempat.
Nama Lubawang pun sudah dikenal di kalangan pencinta tembakau yang memburu karakter khas Bheko Tambheng.
Diburu Tokoh Masyarakat hingga Pejabat
Keunikan rasa dan aroma membuat pembelinya datang dari berbagai latar belakang. Mulai tokoh masyarakat, pengusaha hingga sejumlah pejabat disebut menjadi bagian dari kalangan yang mencari Bheko Tambheng.
Mereka rela datang langsung untuk mendapatkan tembakau yang dianggap memiliki karakter berbeda dari jenis lainnya.
Di balik tingginya harga dan popularitasnya, Bheko Tambheng juga menyimpan cerita mengenai asal-usul namanya.
Sukayyin menyebut, kata “Tambheng” dalam bahasa Madura berarti bingung atau bodoh. Istilah itu dikaitkan dengan cerita yang berkembang sejak zaman penjajahan Belanda.
Konon, seorang prajurit Belanda pernah mencicipi tembakau tersebut. Karena menikmati rasa dan aromanya, prajurit itu disebut sampai lupa terhadap tugasnya.
Cerita turun-temurun tersebut kemudian dipercaya menjadi salah satu asal-usul penyebutan Bheko Tambheng.
Kini, Bheko Tambheng bukan hanya menjadi komoditas bernilai tinggi. Tembakau khas Lubawang itu juga menjadi bagian dari pengetahuan, tradisi, dan identitas petani yang diwariskan dari generasi ke generasi. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo