RADARSITUBONDO.ID — Kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di Situbondo. Sepanjang 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Luas lahan dan hutan yang terbakar bahkan diperkirakan lebih dari 50 hektare jika seluruh kejadian turut dihitung.
Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul sekaligus cepat merambat. Sejumlah kawasan seperti Jalan Arak-Arak, Muncel, hingga Baluran tercatat mengalami kebakaran.
Kasubbag Umum Pemadam Kebakaran (Damkar) Situbondo, Hidayat, mengatakan data yang dimiliki Damkar belum sepenuhnya menggambarkan total karhutla yang terjadi. Sebab, data tersebut hanya mencatat kejadian yang mendapat penanganan petugas.
“Kalau semua, baik yang ditangani maupun yang tidak ditangani, kurang lebih puluhan hektare lahan dan hutan yang terbakar. Jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” kata Hidayat, Selasa (25/8).
Pria yang akrab disapa Dayat itu menyebut, luas kebakaran yang berhasil ditangani petugas berada di kisaran belasan hingga sekitar 20 hektare. Jika digabung dengan kejadian yang tidak tertangani, total lahan dan hutan yang terbakar diperkirakan telah menembus lebih dari 50 hektare.
“Kemarin saja di Jalan Arak-Arak, di Muncel, dan Baluran itu sudah berapa hektare. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini lebih banyak,” tambahnya.
Kemarau Panjang Jadi Pemicu
Menurut Dayat, peningkatan karhutla tidak hanya terjadi di Situbondo. Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian di sejumlah daerah seiring berlangsungnya musim kemarau panjang dan cuaca panas.
Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas pembakaran di lahan.
Dayat mengingatkan, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan atau membuka lahan milik warga dapat merembet ke kawasan hutan, termasuk area yang ditumbuhi pohon jati.
“Kalau ada yang membakar untuk pembebasan lahan, seharusnya tetap diawasi. Terkadang masyarakat meninggalkan api sehingga merembet ke hutan lainnya, seperti kawasan pohon jati,” ungkapnya.
Menurut dia, kebakaran yang sudah membesar akan jauh lebih sulit dipadamkan. Karena itu, masyarakat diminta tidak meninggalkan api begitu saja setelah melakukan pembakaran.
“Kalau kebakarannya semakin besar, pemadamannya juga semakin sulit,” imbuh Dayat.
Damkar Ingatkan Ancaman Merembet ke Hutan
Dayat menegaskan, pembakaran lahan secara sembarangan tidak hanya membahayakan pemilik lahan. Api yang merembet dapat menyebabkan kerugian bagi masyarakat dan memperluas kawasan yang terbakar.
Pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap potensi karhutla, termasuk kejadian yang diduga dilakukan secara sengaja.
“Kebakaran hutan itu sulit ditemukan siapa yang menjadi pelakunya. Namun, jika ditemukan, tentu akan ditindak,” tegasnya.
BPBD Catat Empat Hektare
Sementara itu, Ketua Pelaksana Kalaksa BPBD Situbondo, Timbul Sujanto, menyebut data yang masuk ke BPBD mencatat kebakaran hutan sekitar empat hektare.
Namun, angka tersebut belum tentu mencerminkan keseluruhan luasan karhutla. BPBD menerima data berdasarkan laporan kejadian yang tertangani.
“Kurang lebih segitu. Namun, untuk data yang lebih pasti, yang mengetahui adalah Damkar karena mereka yang menangani langsung kejadian kebakaran,” ujarnya.
Timbul menyebut terdapat beberapa kejadian kebakaran di kawasan perbukitan Batu Godong, Kecamatan Panji, pada Juni 2026. Kebakaran juga terjadi di Jalan Arak-Arak, wilayah perbatasan Situbondo-Bondowoso, pada 2 Agustus 2026.
Secara keseluruhan, BPBD mencatat tiga kejadian yang masuk dalam laporan tersebut, termasuk kebakaran lahan hutan di perbukitan Batu Godong dengan luas sekitar empat hektare.
“Totalnya ada tiga kejadian, yakni di Kecamatan Panji dan Kecamatan Suboh. Salah satunya kebakaran lahan hutan di perbukitan Batu Godong, Kecamatan Panji, pada Juni lalu. Lahan hutan yang terbakar luasnya mencapai sekitar empat hektare,” imbuhnya.
Meningkatnya karhutla sepanjang 2026 menjadi peringatan bagi masyarakat Situbondo. Di tengah kemarau panjang, kelalaian kecil saat menggunakan api berpotensi berubah menjadi kebakaran besar, terlebih ketika lahan dan vegetasi dalam kondisi kering. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo