RADARSITUBONDO.ID – Dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, mencuat. Sejumlah siswa dan guru disebut mengalami keluhan seperti muntah, diare, hingga lemas setelah mengonsumsi menu MBG.
Persoalan tersebut disebut telah disampaikan melalui grup WhatsApp yang berisi guru dan wali murid. Namun, pihak sekolah mengklaim keluhan itu belum mendapat tindak lanjut dari dapur Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Pokaan.
Kondisi itu kemudian mendorong sekolah membuat angket terkait keberlanjutan penerimaan MBG. Hasilnya, wali murid disebut menyepakati untuk tidak melanjutkan penerimaan program tersebut.
Seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, keluhan kesehatan tidak hanya dialami satu atau dua siswa. Beberapa guru juga disebut mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap MBG.
“Bukan hanya murid, ada juga guru yang mengeluhkan keluar-masuk WC setelah menyantap MBG,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan tersebut sempat menjadi pembahasan serius di grup WhatsApp guru dan wali murid. Bahkan, percakapan sempat memanas karena sejumlah orang tua khawatir kondisi tersebut terjadi lagi.
Namun, pihak sekolah memilih meredam persoalan agar tidak berdampak terhadap lembaga maupun guru. Apalagi, sekolah saat itu memasuki masa libur sehingga dugaan gangguan kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
“Yang mengalami keluhan bukan hanya satu atau dua orang, tetapi hampir semuanya di sekolah, termasuk beberapa guru. Namun, guru tetap berusaha meredam agar persoalan ini tidak semakin ramai,” jelasnya.
Pihak sekolah juga disebut telah menyampaikan keluhan anak-anak yang mengalami muntah dan diare kepada pihak terkait.
“Semua keluhan dari wali murid sudah saya sampaikan. Entah mau ditindaklanjuti atau tidak, saya juga kurang paham,” ungkap seorang guru dalam percakapan singkat di grup WhatsApp.
Namun, klaim tersebut dibantah Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Desa Pokaan, Zainal. Dia menyatakan tidak pernah menerima laporan mengenai dugaan keracunan yang dikaitkan dengan MBG di sekolah tersebut.
Menurut Zainal, sebelum sekolah membuat angket terkait keberlanjutan penerimaan MBG, pihak sekolah hanya menyampaikan alasan penyesuaian penerimaan murid baru. Tidak ada laporan mengenai dugaan keracunan maupun keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
“Setelah kami konfirmasi sebelum membuat angket, pihak sekolah hanya menyampaikan alasan penyesuaian penerimaan murid baru. Tidak ada komplain lain yang disampaikan kepada kami,” kata Zainal.
Dia menjelaskan, setiap laporan dugaan keracunan akibat MBG seharusnya langsung ditindaklanjuti. Ahli gizi SPPG akan turun ke lokasi untuk mengambil sampel makanan yang kemudian diperiksa guna mengetahui penyebab keluhan.
“Kalau ada laporan, ahli gizi akan langsung turun mengambil sampel makanan untuk diperiksa. Namun, laporan terkait kejadian tersebut tidak pernah kami terima,” tegasnya.
Zainal juga meminta penyebab gangguan kesehatan tidak langsung dikaitkan dengan MBG sebelum ada pemeriksaan. Sebab, penerima manfaat bisa saja mengonsumsi makanan lain bersamaan dengan menu MBG.
Termasuk makanan dari luar yang memiliki tingkat kepedasan tinggi.
“Takutnya nanti disebut keracunan karena MBG, tetapi setelah ditelusuri ternyata ada makanan lain yang dikonsumsi dan dicampur dengan makanan pedas. Karena itu, perlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya,” tambahnya.
Dengan adanya dua versi tersebut, penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa dan guru belum dapat dipastikan. Pemeriksaan sampel makanan menjadi penting untuk memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan MBG atau faktor makanan lain. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo