RADARSITUBONDO.ID – Api kembali mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Baluran. Sepanjang Agustus 2026, sedikitnya 135,37 hektare lahan di kawasan hutan tersebut dilaporkan hangus terbakar.
Balai Taman Nasional (TN) Baluran menduga kuat kebakaran dipicu aktivitas manusia. Salah satunya kebiasaan warga membakar sampah atau daun kering di sekitar kawasan hutan tanpa pengawasan.
Kepala Subbag Tata Usaha Balai TN Baluran, Joko, mengatakan insiden kebakaran cukup sering terjadi selama Agustus. Penyebabnya diduga bukan faktor alam, melainkan aktivitas manusia.
“Semua kejadian tersebut diduga penyebabnya adalah ulah tangan manusia atau masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan tidak sadar akan kelestarian alam,” tegas Joko, Rabu (26/8).
Menurut dia, masih ada masyarakat sekitar yang belum memahami risiko pembakaran di tengah kondisi kering. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat dan membakar vegetasi yang mengering.
Joko mengingatkan dampaknya bukan hanya kerusakan lahan. Kebakaran juga mengancam habitat satwa liar yang menjadi bagian penting ekosistem Baluran.
“Kalau hutan terbakar, satwa yang ada terganggu. Jika angin mengarah ke jalan Pantura, otomatis asap juga mengganggu pengendara,” ujarnya.
Karena itu, Balai TN Baluran memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setidaknya terdapat lima langkah utama yang dilakukan untuk menekan potensi kebakaran.
Di antaranya sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla, memperkuat sinergi lintas sektor, mempercepat respons ketika kebakaran muncul, serta memastikan kesiapsiagaan sarana dan prasarana.
Pengawasan juga diperluas dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Kami juga melakukan patroli digital. Monitoring rutin lewat CCTV dan drone. Begitu terdeteksi titik asap atau hot spot, tim langsung diterjunkan,” papar Joko.
Meski pengawasan dilakukan secara rutin, luas kawasan TN Baluran membuat upaya menjaga hutan tidak mungkin hanya dibebankan kepada petugas. Peran masyarakat sekitar menjadi kunci, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi mudah terbakar.
Joko mengajak warga ikut menjaga kawasan konservasi dan menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun daun kering di area yang berisiko memicu kebakaran.
“Kami mengajak warga agar ikut menjaga lahan TN Baluran. Sebab jika kebakaran hanya diurus oleh pengurus TN Baluran, zonanya terlalu lebar,” pungkasnya. (hum/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo