RADARSITUBONDO.ID – Hajatan Maulid Nabi Muhammad SAW membuat permintaan daging ayam potong di sejumlah pasar tradisional Situbondo meningkat. Dampaknya langsung terasa di lapak pedagang. Harga ayam broiler yang sebelumnya Rp 36 ribu–Rp 37 ribu per kilogram kini tembus Rp 40 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut terjadi seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk berbagai acara dan hajatan Maulid Nabi. Meski harga naik, pembeli tidak lantas mengurangi belanja. Justru sebaliknya, permintaan daging ayam disebut semakin tinggi.
Ilham, pedagang daging ayam di Pasar Tradisional Mimbaan Baru, mengatakan harga ayam potong mulai naik sejak awal momentum Maulid Nabi. Dari sebelumnya Rp 36 ribu–Rp 37 ribu, kini menjadi Rp 40 ribu per kilogram.
“Sejak awal Maulid sampai sekarang, harga daging ayam potong naik menjadi Rp 40 ribu dari harga sebelumnya sebesar Rp 36 ribu per kilogram,” kata Ilham.
Tingginya permintaan membuat perputaran stok berlangsung cepat. Ilham menyebut sekitar 250 kilogram daging ayam potong bisa habis hanya dalam waktu delapan jam.
“Dalam waktu delapan jam, sebanyak 250 kilogram daging ayam potong habis terjual,” tambahnya.
Daging Sapi dan Kambing Masih Stabil
Berbeda dengan ayam potong, harga daging sapi dan kambing di pasar tradisional Situbondo sejauh ini masih relatif stabil. Ilham mengatakan belum ada kenaikan signifikan untuk kedua komoditas tersebut.
Menurut dia, lonjakan permintaan daging sapi dan kambing biasanya lebih terasa saat Iduladha. Momentum tersebut baru berlangsung sekitar sebulan lalu sehingga harga komoditas itu belum kembali mengalami gejolak.
“Harga daging sapi di pasar tradisional Situbondo masih relatif stabil dan belum menunjukkan kenaikan,” ujarnya.
Pedagang lainnya, Halima, membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, harga komoditas daging sangat dipengaruhi musim dan momentum hari besar keagamaan.
Kenaikan permintaan biasanya terjadi saat Idulfitri, Maulid Nabi, maupun ketika masyarakat menggelar hajatan dalam jumlah besar.
“Kenaikan harga daging ayam itu tergantung musim, misalnya saat Idulfitri, Maulid Nabi, dan acara lainnya di masyarakat,” jelas Halima.
Pedagang, lanjut dia, tidak bisa menaikkan harga sesuka hati. Harga jual tetap disesuaikan dengan kondisi pasokan dan permintaan sekaligus harga yang berlaku di pasar.
Jika harga terlalu tinggi, pedagang khawatir pembeli beralih atau dagangan tidak terserap. Sebaliknya, menjual terlalu murah juga berisiko merugikan pedagang.
“Mau bagaimana lagi, ya kita jual sesuai harga pasar saja,” katanya.
Sementara itu, harga daging sapi di Pasar Mimbaan masih berada di kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogram. Halima menyebut harga tersebut relatif tidak berubah sejak Lebaran hingga sekarang.
Dengan demikian, kenaikan harga daging menjelang dan selama Maulid Nabi saat ini lebih terasa pada komoditas ayam potong. Tingginya kebutuhan masyarakat untuk berbagai tradisi dan hajatan membuat stok ayam bergerak lebih cepat meski harga mengalami kenaikan. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo