Air Bersih Makin Sulit Saat Kemarau, Pemkab Situbondo Siapkan Solusi Permanen

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 20:43 WIB
ANTRE: Sejumlah warga menaruh ember dan jeriken untuk diisi air bersih di Dusun Sokaan Barat, Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Selasa (1/9). (Ahmad Rifa
ANTRE: Sejumlah warga menaruh ember dan jeriken untuk diisi air bersih di Dusun Sokaan Barat, Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Selasa (1/9). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID - Kemarau kembali membuat ribuan warga Situbondo kesulitan mendapatkan air bersih. Sebanyak 4.271 kepala keluarga (KK) atau 11.409 jiwa terdampak kekeringan. Untuk memutus ketergantungan terhadap bantuan air, Pemkab Situbondo menyiapkan pembangunan sumur bor di enam titik.

Sumur bor tersebut direncanakan dibangun di sejumlah wilayah yang setiap tahun mengalami krisis air saat musim kemarau. Langkah itu diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang agar warga memiliki akses sumber air yang lebih dekat.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pembangunan sumur bor telah dianggarkan tahun ini. Pemerintah tidak ingin persoalan kekurangan air hanya ditangani dengan distribusi air bersih setiap musim kemarau.

“Untuk solusi jangka panjangnya, tahun ini kami anggarkan untuk pembangunan sumur bor di beberapa titik agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan air saat musim kemarau tiba,” kata Bupati Rio.

Menurut dia, keberadaan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan diharapkan dapat mendekatkan akses air kepada masyarakat. Warga nantinya tidak perlu berjalan jauh untuk mengambil air ataupun terus menunggu bantuan dari pemerintah.

Sembari menunggu solusi permanen tersebut terealisasi, Pemkab Situbondo juga meningkatkan distribusi air bersih. Pengiriman yang sebelumnya dilakukan sekali dalam sepekan akan ditambah menjadi dua hingga tiga kali.

“Jangka pendeknya dalam penanganan kekurangan air bersih, pendistribusian air ditingkatkan atau ditambah dari sebelumnya satu kali menjadi dua kali hingga tiga kali dalam seminggu,” imbuhnya.

Kesulitan air salah satunya dirasakan warga Dusun Sokaan Barat, Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh. Maimunah mengatakan, krisis air sudah berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.

Untuk mendapatkan air, warga harus menuju sumber mata air yang berjarak sekitar dua kilometer. Tak jarang mereka juga terpaksa membeli air dengan harga Rp 500 hingga Rp 1.000 per jeriken.

“Harapannya terus dikirimi air, supaya desa di sini tidak kesulitan air. Buat minum, buat sapi juga, buat mandi, buat masak,” tuturnya.

Data BPBD Situbondo mencatat, Kecamatan Suboh menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup besar. Tercatat 1.064 KK atau 3.302 jiwa mengalami dampak kekeringan.

Pembangunan sumur bor di enam titik diharapkan menjadi langkah permanen untuk mengurangi persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Dengan sumber air yang lebih dekat, kebutuhan dasar warga di wilayah rawan kekeringan diharapkan dapat terpenuhi tanpa terus bergantung pada distribusi air bersih. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
kekeringan Situbondo Sumur bor Situbondo Bantuan air bersih krisis air bersih bpbd situbondo