Pelataran Keraton Solo Dipagari Seng, Kerabat Khawatir Prosesi Adat Besar Oktober Terancam

Titin Wulandari • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 17:05 WIB
KERATON SOLO : Akses pelataran Keraton Surakarta ditutup pagar seng.(Instagram:@keratonsurakarta)
KERATON SOLO : Akses pelataran Keraton Surakarta ditutup pagar seng.(Instagram:@keratonsurakarta)

 

Radarsitubondo.id - Situasi di kawasan Keraton Surakarta menjadi perhatian setelah akses menuju pelataran keraton ditutup menggunakan pagar seng.

Penutupan tersebut memunculkan kekhawatiran dari kalangan kerabat keraton karena pelataran merupakan salah satu kawasan penting yang selama ini digunakan untuk berbagai kegiatan dan prosesi adat.

GKR Ratih menyampaikan bahwa sejumlah ritual tradisi Keraton Surakarta secara rutin membutuhkan akses menuju kawasan tersebut. Karena itu, penutupan akses dikhawatirkan berdampak langsung terhadap agenda adat yang telah dipersiapkan.

Baca Juga: Pesta Pernikahan Berubah Jadi Maut! 4 Orang Tewas, Iran Ancam Balas Serangan AS

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah ritual caos dahar yang secara rutin dilaksanakan setiap Kamis dengan prosesi mengelilingi kawasan Keraton Surakarta.

Menurut GKR Ratih, kegiatan tersebut tidak dapat dijalankan apabila akses menuju pelataran masih tertutup pagar seng.

Kondisi tersebut membuat persoalan akses bukan sekadar menyangkut kawasan fisik, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan tradisi dan kegiatan adat yang selama ini dilakukan secara rutin.

Kekhawatiran kerabat keraton semakin meningkat karena pada Oktober mendatang dijadwalkan berlangsung acara besar Tingalan Jumenengan Sinuhun.

Baca Juga: Kumpulan Soal OMI 2026 MI Terbaru dan Jawaban, Matematika serta IPAS! Level Kesulitan Lanjutan

Acara tersebut merupakan salah satu agenda penting dalam tradisi Keraton Surakarta. GKR Ratih menilai akses menuju pelataran perlu kembali dibuka agar rangkaian prosesi adat dapat berlangsung sesuai dengan ketentuan dan tradisi yang selama ini dijalankan.

Dengan adanya pagar seng, muncul kekhawatiran persiapan maupun pelaksanaan prosesi tersebut akan menghadapi kendala apabila persoalan akses belum terselesaikan.

Meski meminta akses dibuka, GKR Ratih menegaskan tidak akan mengambil tindakan dengan membongkar pagar seng secara paksa.

Menurutnya, tindakan tersebut justru berisiko menimbulkan benturan dengan pihak lain dan memperbesar persoalan yang sedang berlangsung.

GKR Ratih mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolresta Solo. Penyelesaian melalui jalur hukum kemudian dipilih sebagai langkah untuk mencari solusi atas persoalan penutupan akses tersebut.

Baca Juga: Viral Video Pendaki Gunung Prau Diduga Berbuat Tak Senonoh, Sempat Terjadi Cekcok di Jalur Pendakian

Di sisi lain, Lembaga Dewan Adat menyampaikan bahwa pemasangan pagar seng berkaitan dengan proses revitalisasi kawasan Keraton Surakarta.

Dengan demikian, terdapat kepentingan berbeda yang saat ini berjalan bersamaan. Di satu sisi, kerabat keraton mempertanyakan akses untuk kepentingan prosesi adat. Di sisi lain, proses revitalisasi kawasan juga sedang dilakukan.

Persoalan tersebut hingga kini masih bergulir. Kedua pihak diharapkan dapat menemukan jalan keluar sehingga revitalisasi Keraton Surakarta tetap berjalan tanpa menghambat pelaksanaan prosesi adat yang telah menjadi bagian dari tradisi keraton.

Perhatian kini tertuju pada penyelesaian persoalan akses sebelum agenda besar Tingalan Jumenengan Sinuhun pada Oktober berlangsung.(*)

Editor : Titin Wulandari
Keraton Surakarta Keraton Solo caos dahar revitalisasi Keraton Solo