RADARSITUBONDO.ID – Rencana pembangunan gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Wonokoyo, Kecamatan Kapongan, Situbondo, menuai penolakan dari sejumlah guru SDN 3 Wonokoyo.
Guru khawatir, rencana tersebut justru mengganggu kepentingan pendidikan. Sebab, lahan yang dipilih merupakan bagian dari aset sekolah yang selama ini tidak digunakan karena kondisi bangunan rusak. Di sisi lain, sekolah tersebut telah diajukan untuk mendapatkan program revitalisasi.
Salah seorang guru SDN 3 Wonokoyo mengatakan, bangunan yang hendak dialihfungsikan memang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Namun, kondisi itu bukan berarti lahan tersebut tidak lagi dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan.
Menurutnya, bangunan tersebut masih berpeluang dimanfaatkan kembali apabila mendapat bantuan revitalisasi dari pemerintah. Karena itu, para guru keberatan ketika lahan tersebut direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung KDKMP.
“Gedung yang rusak itu mau dialihfungsikan menjadi bangunan KDKMP. Para guru menolak,” katanya.
Dia menilai, masih banyak kemungkinan lokasi lain yang dapat dipertimbangkan untuk pembangunan KDKMP di wilayah Wonokoyo. Terlebih, lokasi yang berada di lingkungan sekolah dinilai kurang strategis apabila nantinya digunakan untuk aktivitas koperasi.
Kekhawatiran lain muncul karena SDN 3 Wonokoyo telah diajukan untuk mendapatkan revitalisasi. Jika bantuan tersebut terealisasi, bangunan sekolah yang kini terbengkalai berpotensi kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Kalau dibangun di sini dan ternyata sekolah ini mendapat revitalisasi dari kementerian, kan repot juga nanti urusannya,” ujarnya.
Menurut dia, penggunaan lahan tersebut untuk KDKMP juga berpotensi menimbulkan persoalan baru ketika sekolah kembali aktif. Aktivitas koperasi dan kegiatan belajar mengajar dikhawatirkan saling mengganggu.
“Apalagi area ini merupakan area anak-anak sekolah. Kalau dijadikan bangunan KDKMP, bagaimana nasib anak-anak? Apakah tidak terganggu dengan aktivitas di sana atau sebaliknya? Apakah KDKMP juga tidak terganggu dengan aktivitas anak-anak ketika sudah beroperasi?” jelasnya.
Soroti Penggunaan Aset dan Uang Negara
Guru tersebut berharap pembangunan program prioritas pemerintah tetap mempertimbangkan kesesuaian lahan dan manfaat jangka panjang. Menurutnya, lokasi pembangunan seharusnya benar-benar potensial sehingga bangunan yang didirikan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Terlebih, pembangunan KDKMP menggunakan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, pemilihan lokasi dinilai tidak boleh dilakukan hanya karena lahan tersebut tersedia.
“Program prioritas itu harusnya mencari lahan yang tentu potensial. Ini menyangkut uang negara yang harus dipertanggungjawabkan nantinya. Kalau dibangun di sini yang lokasinya sepi warga, terus bagaimana dengan itu?” ujarnya.
Dia juga mempertanyakan alasan lahan yang selama ini diperuntukkan bagi gedung sekolah harus digunakan untuk program tersebut. Menurutnya, perlu ada pembahasan lebih lanjut mengenai alternatif lokasi agar kepentingan pendidikan tetap terlindungi.
“Kenapa program prioritas Presiden itu harus diadakan dengan mengambil lahan yang seharusnya menjadi gedung sekolah? Apakah tidak ada lokasi lain?” tanyanya.
Karena itu, para guru berharap pemerintah desa maupun pihak yang memiliki kewenangan dapat mencari solusi terbaik. Terutama agar rencana pembangunan KDKMP tidak mengorbankan aset pendidikan yang sewaktu-waktu dapat kembali dimanfaatkan.
“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menolak. Kalau nantinya disepakati oleh pemerintah di atas, yang jelas kami hanya bisa menyaksikan. Sebab, lokasi tersebut merupakan aset pemerintah,” tegasnya.
Sementara itu, Jawa Pos Radar Situbondo telah berupaya mengonfirmasi Kepala Desa Wonokoyo, Subairi, terkait rencana penggunaan lokasi tersebut untuk pembangunan gedung KDKMP.
Subairi disebut memilih lokasi tersebut sebagai tempat pembangunan KDKMP. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan rinci dari pihak pemerintah desa mengenai alasan pemilihan lokasi maupun tanggapan atas keberatan para guru.
Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp telah terbaca, ditandai centang dua, tetapi belum mendapat jawaban. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo