RADARSITUBONDO.ID – Persoalan pembayaran pekerja dan bon material kembali membayangi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Situbondo. Seorang kontraktor bernama Zaki disebut diduga memegang tujuh lokasi pembangunan KDMP, namun dikeluhkan belum menuntaskan pembayaran upah sejumlah pekerja dan tagihan toko bangunan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, tujuh proyek tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Rinciannya, dua lokasi berada di Kecamatan Suboh, tiga di Kecamatan Jangkar, serta masing-masing satu lokasi di Kecamatan Panji dan Arjasa.
Sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, proyek yang dikerjakan Zaki antara lain berada di Desa Curah Kalak, Palangan, Agel, Gunung Putri, Dawuhan, Mimbaan, serta satu lokasi di Kecamatan Arjasa.
“Di Kecamatan Jangkar di Desa Curah Kalak, Palangan dan Agel, di Desa Gunung Putri, di Dawuhan, di Arjasa satu. Di Mimbaan juga ada. Lumayan banyak proyeknya,” ujarnya, Rabu (16/9).
Menurut dia, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian dalam proses pemilihan kontraktor. Penjaringan dan pemeriksaan kemampuan kontraktor dinilai penting agar persoalan pembayaran tidak berujung pada kerugian pekerja maupun pemilik toko material.
Sebab, para pekerja mengandalkan upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, pembayaran yang belum tuntas membuat sebagian pekerja mengaku kebingungan.
“Memang ada janji kontraktor mau bayar, tapi kalau hanya pakai janji dan janji, keluarga kami mau makan apa?” keluhnya.
Kontraktor Klaim Kekurangan Anggaran
Sumber tersebut mengatakan, dirinya juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pekerja yang terlibat dalam pembangunan KDMP di lokasi lain. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pembayaran pekerja pada proyek yang ditangani kontraktor lain berjalan lancar.
Dia menyebut persoalan pembayaran tersebut hanya terjadi pada salah satu kontraktor dari sejumlah kontraktor yang mengerjakan pembangunan KDMP.
“Ini yang tidak membayar ke toko dan kepada pekerja hanya satu kontraktor. Ya Zaki,” tegasnya.
Sementara itu, Zaki membenarkan dirinya tengah mengalami kekurangan anggaran. Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan lokasi pembangunan KDMP yang berbeda-beda.
Dia mengaku terdapat lokasi yang membuatnya mengalami kerugian, sementara lokasi lainnya memberikan keuntungan. Kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan keuangannya untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran.
“Saya ini sebenarnya mau tanggung jawab. Saya kalau ada dana pasti bayar, saya ada niatan bayar,” kata Zaki singkat.
Persoalan pembayaran upah pekerja dan tagihan material tersebut kini menjadi sorotan karena menyangkut keberlangsungan pembangunan KDMP sekaligus hak pihak-pihak yang terlibat dalam pekerjaan. (hum/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo