RADARSITUBONDO.ID – Hutan lindung di Petak 6A LMDH Baderan, Kecamatan Sumbermalang, Situbondo, menjadi sorotan. Lahan yang semestinya berfungsi menjaga kawasan hutan justru disebut berubah menjadi kebun tembakau. Sejumlah pohon berukuran besar juga ditemukan roboh dan mengering.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan warga terhadap pengelolaan kawasan hutan oleh Perhutani. Sebab, lahan yang ditanami tembakau disebut mencapai sekitar tiga hektare. Bahkan, warga menyebut luasan serupa ditemukan di sejumlah titik lain.
“Hutan lindung Petak 6A LMDH Baderan saat ini ditanami tembakau sekitar tiga hektare. Di luar itu lebih luas, bisa dicek langsung ke lokasi,” ujar Edy Susanto, Kamis (17/9).
Warga menyebut pengelolaan lahan tersebut diduga dilakukan oleh seorang warga berinisial R. Namun, status perizinannya belum dapat dipastikan.
Menurut informasi yang diterima warga, lahan yang ditanami tembakau tersebut belum memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Perhutani. Padahal, pemanfaatan kawasan hutan lindung memiliki ketentuan terkait jenis tanaman dan pola pengelolaannya.
“Setahu kami yang boleh ditanam di hutan lindung hanya kopi di bawah tegakan, itu pun tidak boleh mengubah fungsi. Kalau tembakau butuh lahan terbuka dan panas. Makanya banyak pohon yang diduga ditebang,” kata Edy.
Kondisi di lapangan, lanjut dia, semakin mengkhawatirkan. Warga menemukan sejumlah pohon berukuran besar dalam kondisi roboh. Sebagian lainnya disebut mati dan mengering.
Temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa pohon sengaja ditebang atau dirusak agar tanaman tembakau mendapatkan paparan sinar matahari lebih banyak. Namun, dugaan mengenai penyebab kematian pohon tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan verifikasi lebih lanjut.
“Banyak kayu ukuran besar roboh. Ada juga yang tiba-tiba kering. Lebar pohon, kayu setinggi orang dewasa yang berdiri,” tegasnya.
Edy mengaku khawatir jika kondisi tersebut terus dibiarkan. Menurut dia, berkurangnya tutupan vegetasi di kawasan hutan dapat meningkatkan risiko limpasan air ketika hujan deras.
Kekhawatiran terutama dirasakan warga di wilayah hilir, termasuk Desa Demung, Kecamatan Besuki. Warga mengingat kejadian banjir yang pernah terjadi pada 2022.
“Kalau dibiarkan gundul, saat musim hujan bisa banjir. Dulu tahun 2022 pernah kejadian. Yang terdampak warga Besuki dan Desa Demung,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, Asper Perhutani Besuki Fajar belum memberikan tanggapan terkait kondisi tersebut. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp belum mendapat balasan meski pesan telah terkirim. Panggilan telepon juga belum direspons.
Persoalan ini kini membutuhkan penjelasan dari pihak terkait, terutama mengenai status pemanfaatan lahan, keberadaan PKS, serta penyebab pohon-pohon besar di kawasan tersebut roboh dan mengering. (hum/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo