RADARSITUBONDO.ID – Kekhawatiran terhadap keamanan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat Pemerintah Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, mengambil langkah preventif. Sejumlah banner dipasang di wilayah desa sebagai pengingat agar penerima manfaat tidak ragu melapor jika mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG.
Kepala Desa Klatakan Narwiyoto mengatakan, pemasangan banner tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah desa terhadap keamanan dan kesehatan warganya. Masyarakat diminta aktif mengawasi makanan yang diterima, termasuk segera melapor apabila menemukan makanan yang diduga bermasalah.
“Kami tidak akan segan-segan untuk mengawal ketika terjadi sesuatu kepada masyarakat akibat program tersebut,” kata Narwiyoto, Jumat (18/9).
Menurut dia, imbauan itu dipasang di sejumlah lokasi karena muncul kekhawatiran masyarakat menyusul pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program MBG di sejumlah daerah.
Narwiyoto meminta orang tua mengawasi anak-anak mereka setelah menerima makanan MBG. Guru di sekolah juga diminta tidak menutupi apabila terdapat siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
“Tujuan sebenarnya adalah kita ingin yang terjadi di sana tidak terjadi di sini. Sehingga, kita pasang imbauan dengan banner yang dipasang di beberapa lokasi,” imbuhnya.
Guru Diminta Tegas Soal Waktu Pengiriman
Selain meminta warga aktif melapor, Narwiyoto juga menyoroti mekanisme pengiriman makanan MBG ke sekolah. Menurut dia, guru memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang diterima sesuai ketentuan.
Dia meminta guru tidak takut menolak makanan apabila pengiriman melewati waktu yang telah ditentukan. Pengawasan, kata dia, tidak harus dilakukan dengan mencicipi makanan.
“Para guru jangan pernah takut. Kalau takut, yang terjadi akan menjadi tumbal kesalahan mereka sendiri. Misalkan ada pengiriman MBG yang lewat dari 15 menit saja, guru harus menolak karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ucapnya.
Narwiyoto juga meminta penyedia layanan menjalankan proses penyediaan dan distribusi makanan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Jadi, kepada penyedia layanan bekerjalah sesuai dengan prosedur yang baik dan benar sesuai SOP,” tegasnya.
Jika muncul dugaan masalah setelah makanan dikonsumsi, dia meminta warga segera menyampaikannya kepada pemerintah desa agar dapat ditindaklanjuti.
Menurut Narwiyoto, laporan cepat diperlukan agar dugaan kejadian dapat segera ditangani. Dia juga mengingatkan agar persoalan yang berkaitan dengan makanan MBG tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
“Dan jangan sampai pihak pengirim MBG itu acuh tak acuh dan bahkan menganggap biasa apabila ada kejadian. Karena saya sebagai kepala desa harus melindungi warga Desa Klatakan,” ungkapnya.
Dia menegaskan, pemasangan banner bukan dimaksudkan untuk mengintimidasi penyedia MBG. Langkah tersebut lebih diarahkan untuk membangun kewaspadaan bersama sekaligus mendorong penyedia memperhatikan kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak.
“Kami memasang itu bukan meneror atau mengintimidasi, tetapi bagaimana program itu berjalan semaksimal dan sebaik mungkin,” tutupnya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo