RADARSITUBONDO.ID – Masa depan anak tidak hanya ditempa di ruang kelas. Kebiasaan di rumah, aktivitas di lingkungan masyarakat, hingga kecakapan memanfaatkan teknologi ikut menentukan karakter dan kemandirian mereka.
Semangat itulah yang coba dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo melalui Gerakan Mandiri Anak Situbondo (Gemas). Program inovasi pendidikan tersebut resmi diluncurkan di Gelora Situbondo (GS), Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Sabtu (19/9).
Peluncuran Gemas menjadi istimewa karena dihadiri langsung Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Kemendikdasmen) RI Gogot Suharwoto. Sekitar 1.600 peserta turut meramaikan kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari kepala sekolah, guru, serta siswa jenjang PAUD, TK, SD hingga SMP sederajat.
Gogot memberikan apresiasi terhadap inovasi pendidikan yang dikembangkan Pemkab Situbondo. Menurut dia, penyelenggaraan Festival Edukasi (EduFest) sekaligus peluncuran Gemas merupakan kegiatan yang relatif jarang ditemukan di daerah lain.
Bahkan, dia menyebut inovasi tersebut sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ditemuinya.
"Kami apresiasi kepada Pak Bupati Situbondo yang telah menyiapkan kegiatan Festival Edukasi (EduFest) Gemas. Ini jarang sekali digelar di tempat lain. Menurut kami, ini merupakan salah satu yang terbaik yang pernah saya datangi di Indonesia," kata Gogot.
Empat Lingkungan Pendidikan
Gemas merupakan inovasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo yang menggabungkan empat lingkungan pendidikan sekaligus.
Yakni pendidikan di sekolah, pendidikan di keluarga, pendidikan di masyarakat, serta pendidikan melalui media digital.
Konsep tersebut telah diterapkan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD, SD hingga SMP. Anak tidak hanya didorong aktif mengikuti pembelajaran di sekolah, tetapi juga memiliki kegiatan produktif di rumah, masyarakat, serta ruang digital.
"Di sekolah belajar, di rumah juga ada kegiatan dan kemandirian keseharian, di tengah masyarakat juga ada kegiatan-kegiatan lain, serta media digital pun juga sudah disiapkan melalui gerakan Gesit Ber-PID. Jadi, semuanya sudah terpenuhi," jelas Gogot.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi penting karena pendidikan anak tidak berhenti ketika bel sekolah berakhir. Lingkungan keluarga dan masyarakat turut menjadi ruang belajar untuk membangun kebiasaan serta karakter.
Papan Digital Tetap Perlu Batasan
Dalam kesempatan tersebut, Gogot juga menyinggung pemanfaatan papan interaktif digital yang telah didistribusikan ke sejumlah sekolah di Situbondo.
Perangkat tersebut telah dimanfaatkan mulai jenjang TK, SD hingga SMP, sedangkan PAUD tidak menjadi sasaran distribusi. Namun, untuk jenjang TK atau kelompok bermain (KB), penggunaannya perlu memperhatikan usia peserta didik.
Gogot menegaskan, papan interaktif digital tidak dianjurkan bagi anak yang masih terlalu kecil. Penggunaannya lebih tepat untuk peserta didik berusia sekitar 5–6 tahun.
"Hanya ada TK atau KB yang muridnya minimal berusia 5–6 tahun, kami tidak mendorong untuk yang terlalu kecil karena berisiko mengganggu konsentrasinya. Jadi, jangan salah paham, ini hanya untuk anak yang sudah berusia 5–6 tahun," tegasnya.
Gesit Ber-PID Cetak Ribuan Konten
Selain Gemas, Gogot mengapresiasi program Gesit Ber-PID yang menjadi bagian dari penguatan literasi digital di Situbondo.
Hingga saat ini, program tersebut disebut telah menghasilkan lebih dari 6.000 konten. Capaian itu menjadi salah satu catatan tersendiri dalam pemanfaatan teknologi pendidikan di Situbondo.
Menurut Gogot, pembelajaran teknologi tidak semestinya hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan perangkat digital. Anak juga perlu dibekali kemampuan menghasilkan konten edukatif.
"Sangat luar biasa dukungan dari Pak Bupati serta Kepala Dinas Pendidikan, karena papan interaktif digital dari Kemendikdasmen bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pembelajaran dan pengetahuan," terangnya.
Rio: Karakter Dimulai dari Rumah
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan Gemas lahir dari gagasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjembatani kebutuhan pendidikan anak dengan tantangan masa depan.
Menurut dia, program tersebut diarahkan untuk membangun pola pikir, karakter, serta kebiasaan anak sejak dini.
"Kami hanya ingin memberikan pengetahuan kepada mereka bahwa kesuksesan itu tidak hanya dari bangku sekolah, tetapi juga bisa dimulai dari rumah, seperti pekerjaan rumah," ujarnya.
Rio menilai berbagai aktivitas sederhana di rumah dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Anak, misalnya, dibiasakan mencuci pakaian sendiri, menyetrika, hingga membersihkan rumah.
"Kebiasaan sehari-hari, misalnya seperti mencuci baju sendiri, menyeterika baju sendiri, dan bersih-bersih rumah. Itulah yang membentuk anak ketika mereka sudah dewasa," tambahnya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo